Tampilkan postingan dengan label Bawalah Aku ke Hatimu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bawalah Aku ke Hatimu. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Agustus 2014

Bawalah Aku ke Hatimu : Ending

Awan berwarna kelabu. Langit terlihat mendung. Dedaunan bergoyang tertiup hembusan angin.
Audrey menatap dirinya di cermin. Berjalan keluar kamar. Mengunci pintu rumah. Menaiki taksi yang menuju bandara. "Tunggu aku di sana, aku akan segera tiba." ucap Audrey pada Isabel melalui handphonenya.

15 menit kemudian...

"Isabel..."
"Audrey..."
"Aku mohon, tinggallah di sini."
"Kau tahu, itu adalah keinginan terbesarku. Tinggal di Indonesia dan melihat pria yang telah kucintai selama beberapa tahun ini. Tapi, sungguh menyakitkan setiap kali aku melihat pria itu bersama wanita lain."
"Jangan pergi dan carilah pria lain. Seorang Isabel sungguh sempurna. Pasti banyak pria di luar sana yang mengharapkan cintanya."
"Kita hanyalah manusia biasa. Ketika kita ada masalah, kita akan dihadapkan pada 2 pilihan. Maju atau mundur. Dan saat ini aku memilih untuk mundur. Aku lelah. Aku juga ingin merasakan bahagia."

Audrey langsung memeluk Isabel. Cairan hangat di pelupuk matanya tumpah. Menangis dalam diam. Bersedih atas keputusan sahabatnya itu.

"Maafkan aku Isabel.."
"Sudahlah, jangan menangis. Mana mungkin aku berada di antara kalian. Menjadi seorang wanita dan sahabat. Mana mungkin aku bisa menjalani 2 peran sekaligus. Sangat menyakitkan."

Audrey melepaskan pelukannya. Menatap erat mata Isabel.

"Ketika rasa sakit itu hilang maka kembalilah. Aku akan menunggumu." Audrey tersenyum.
Isabel hanya mengangguk. Lalu Isabel melihat jam tangannya.

"Sudah waktunya, selamat tinggal Audrey."
"Aku akan merindukanmu."

Isabel berjalan meninggalkan Audrey.

Tiba-tiba Isabel berhenti melangkah. Menoleh ke arah Audrey. Dan terdiam. Memandang wajah seorang sahabat yang sekarang berjarak  5 meter darinya.

"Saat ini aku memang memilih mundur dan pergi. Namun, akan tiba saatnya aku kembali dan melangkah maju." kata Isabel di dalam hati.

Keduanya melemparkan senyum. Isabel berbalik dan kembali melangkah meninggalkan Audrey.
******

Tok! Tok! Tok!

"Iya, sebentar." ucap Ayu lalu membuka pintu.
"Selamat siang." pria tinggi berjambul itu tersenyum riang.
"Danar! Ayo masuk. Silahkan duduk. Kakak panggil Audrey dulu ya."

Beberapa menit kemudian Audrey muncul. Matanya membesar melihat sosok pria berkemeja biru muda yang sedang duduk di sofa. Sang pria pun berdiri. Ia menghampiri Audrey.

"Aku telah mengambil keputusan. Aku sudah memikirkannya selama 2 tahun sejak aku terbangun dari koma."
"Apa?" tanya Audrey.

Danar pun mengeluarkan kotak kecil dari saku celananya. Membuka kotak itu dan berkata, "Menikahlah denganku, Audrey."

Audrey menggigit bibir bawahnya sambil menahan senyum.
 Danar dan Audrey berpelukan. Audrey menghela napas panjang. Ia merasakan kelegaan.
Akhirnya semua ini berakhir. Penderitaan, kesedihan, tangisan akan sirna. Kebahagiaan akan segera menghampiri mereka.

"Tunggu dulu. Kamu belum menjawab pertanyaanku."
"Hahaha... Iya, Danar. Bawalah aku ke manapun kamu pergi. Bawalah aku ke hatimu."

Audrey mencubit pipi Danar. Danar pun mencium kening Audrey dalam dekapannya.

~ The End ~


Umi Yanti
2 Agustus 2014
Read the rest ^,^

Jumat, 01 Agustus 2014

Bawalah Aku ke Hatimu : IX

"Universitas Stanford?!" Audrey terperangah.
Audrey bingung. Merasa tak percaya dan khawatir. Ia tak mengedipkan matanya. Jantungnya berdegup tak beraturan. Ada sesuatu yang membuatnya sedih. Hatinya mulai kacau.

"Iya, Universitas Stanford. Haruskah kuulang untuk ketiga kalinya?" jawab Isabel tenang.

Audrey hanya diam. Menatap Isabel lalu beralih ke Danar. Masih diam.

"Bukankah itu kabar baik? Aku akan ke luar negeri. Berkumpul dengan orangtua dan kakakku. Tinggal bersama orang-orang yang menyayangiku, sangat menyayangiku." Isabel kembali bersuara.

Audrey dan Danar masih terdiam. Mata Danar kembali berkaca-kaca. Isabel memaksakan senyum pada keduanya. Kakinya mulai melangkah hendak meninggalkan mereka. Audrey meraih tangan kiri Isabel.

"Di sini juga ada orang yang menyayangimu. Sahabatmu..." ucap Audrey sambil menggenggam tangan Isabel dan menatap punggungnya penuh arti.

Isabel melepaskan genggaman Audrey dengan lembut dan masih membelakangi Audrey. Lalu ia pun kembali melangkah dan benar-benar keluar dari ruangan itu. Audrey dan Danar yang masih terkejut dengan ucapan Isabel hanya bisa diam terpaku melihat kepergian wanita yang memakai kemeja bunga-bunga berwarna putih-biru itu.
******

"Gak. Aku ga bakal melepaskan wanita yang sungguh mencintaiku."

Kevin mengambil jaket cokelatnya dan segera meluncurkan Chevrolet Camaro putih miliknya. Sesaat kemudian ia mencari nama Suzan di kontak handphonenya lalu menekan tombol hijau.

"Halo Suzan. Datanglah ke tempat kencan pertama kita. Aku menunggumu di sana. 10 menit lagi aku tiba."

Belum sempat Suzan menjawab, Kevin langsung mematikan panggilannya. Sorot mata Kevin sangat tajam. 'Tidak akan. Tidak akan. Tidak akan' batin Kevin.

Setibanya di tempat pertemuan...

"Maaf sudah membuatmu menunggu. Ayo!" ajak Kevin sambil memegang tangan kanan Suzan.

Kevin mulai mengantri dan melihat layar, matanya dengan jeli mencari film yang sesuai untuk mereka. Ya, sekarang mereka sedang berada di bioskop, tempat kencan pertama mereka. Setelah memilih film Kevin dan Suzan pun segera masuk ke Studio 3. Tidak ada kata yang keluar dari mulut Kevin maupun Suzan sejak masuk ke dalam studio hingga selama film diputar. Setelah filmnya selesai mereka masih diam. Kevin kembali memegang tangan Suzan dan mengajaknya pulang tanpa mengucapkan satu kata pun.

Di dalam mobil akhirnya Kevin memecah keheningan.

"Suzan, maafin aku. Sungguh aku sayang dan cinta sama kamu. Aku ga akan biarin kamu pergi. Aku ga mau kita jauh."
"Tapi, kemarin kamu bilang kalo kamu suka sama Audrey. Sekarang kamu bilang kamu cinta sama aku dan ga mau pisah sama aku?! Kamu pikir aku apa?" Suzan mulai emosi.
"Saat itu pikiranku sedang kacau. Aku hanya salah mengartikan perasaanku terhadap Audrey. Semua ini karena janjiku pada adik yang sangat kusayangi, Danar."

Aku sedang bermain gitar di dalam kamar. Kemudian telepon rumah berbunyi. Aku segera keluar dari kamar dan mengangkat telepon itu.
"Halo? Ya, saya Kevin, kakaknya Danar. Apa?! Danar kecelakaan?"

Aku segera pergi ke rumah sakit. Di perjalanan aku teringat pada Isabel. Wanita yang selama ini dekat dengan Danar bahkan aku pun kenal padanya. Aku segera meneleponnya dan mengabarkan apa yang telah terjadi. Setibanya di suatu ruangan di rumah sakit yang kulihat adalah Danar yang sedang terbaring kesakitan dengan berlumuran darah. Dadaku terasa sesak. Aku menghampirinya.

Ia pun berkata, "Kak, tolong jaga Audrey."
"Audrey? Siapa?"
"Dia pacar Danar. Tolong jaga Audrey.."

Danar pun pingsan. Aku keluar dari ruangan itu. Tidak lama kemudian dokter pun keluar dan mengatakan bahwa Danar koma. Lalu Isabel muncul dengan raut muka pucat. Kami masuk ke ruangan itu. Danar sedang tertidur dengan perban melingkari kepalanya. Isabel menangis sambil mencium tangan kanan Danar. Aku hanya bisa diam membisu dan membiarkan air mataku mengalir.

1 jam kemudian aku memutuskan pulang untuk mengambil pakaian Danar. Di kamar Danar aku baru teringat akan pesan Danar. Aku pun mengirimkan pesan kepada Audrey melalui handphone Danar. Aku benar-benar tidak sempat bertemu dan melihat wajah Audrey. Beberapa hari kemudian aku pun berhasil mendapatkan informasi tentang Audrey. Dan aku sangat terkejut, bagaimana bisa Audrey dan Isabel berteman baik? Apakah mereka tidak tahu bahwa di antara mereka ada cinta segitiga? Entahlah! Yang terpenting sekarang adalah aku harus menjaga Audrey seperti permintaan Danar.

"Lalu?" Suzan menunggu kata yang akan keluar dari mulut Kevin selanjutnya.
"Selama ini aku hanya terbawa suasana. Aku hanya ingin menjaga Audrey untuk Danar. Maafin aku karena aku begitu tega mengatakan semua itu kemarin. Maukah kau kembali padaku?" tanya Kevin
"Danar adalah orang baik. Kamu juga orang baik. Kemarin Audrey memiliki kamu sebagai pelindung dan penjaganya. Tapi sekarang, besok, dan selamanya aku yang memiliki kamu."

Kevin dan Suzan pun berpelukan. Suzan tersenyum bahagia, begitupun dengan Kevin. Kevin membelai rambut hitam Suzan.
******

To Be Continued . . .

Umi Yanti
1 Agustus 2014
Read the rest ^,^

Kamis, 31 Mei 2012

Bawalah Aku ke Hatimu : VIII

Saat ini Danar sedang mendengarkan alunan merdu instrumen musik klasik favoritnya, yaitu Ballade Pour Adeline - Richard Clayderman. Dan ini adalah kali ke-tiganya Danar mengulangi instrumen ini sejak 20 menit yang lalu. Entah mengapa ia kemudian teringat akan sosok gadis yang telah lama ia kenal. Sosok gadis manis dan pintar. Namun dibalik semua itu ada satu hal yang membuatnya sangat mengingatnya yaitu kegigihan gadis itu mendapatkan cinta Danar. Siapa lagi kalau bukan Isabel. Sejak Danar sadar hingga sekarang ia belum melihat batang hidung Isabel.

'Aku harus menemui Danar' ucap isabel dalam hati. 'Uumm, tidak. Aku harus menemui Audrey terlebih dahulu'. Setelah berdebat dengan kata hatinya, Isabel pun mendapatkan keputusan. Ia segera mengambil kunci mobil yang ada di atas meja riasnya dan segera melaju membelah keheningan pagi.

"Drey, kamu mau ke rumah sakit ya?" tanya Ayu.
"Iya. kakak mau kemana? Kok rapih amat?"
"Kakak mau ke kampus, ada urusan di klub Seni."
"Oh..."
*****

Aroma khas rumah sakit ini membuat perasaan siapapun menjadi sedikit tenang. Mulai dari satpam yang murah senyum, para perawat yang ramah, serta dokter-dokter yang baik hati akan membuat semua orang merasa nyaman di sini. Kamar VIP nomor 08-A adalah ruangan yang ditunggui oleh Danar selama setahun ini. Koridor yang dilewati untuk menuju kamar Danar pun cukup sepi dan memiliki aura positive.

Di dalam kamar nomor 08-A ini ada dua sejoli yang sedang bercengkrama.Tiba-tiba kesenangan mereka sedikit terusik oleh kehadiran orang lain.

"Selamat pagi! Bagaimana keadaannya?"
"Pagi. Baik, Dok."
"Saya periksa sebentar ya.."

Seorang dokter pria paruh baya pun memeriksa dan mengecek kondisi Danar. Beberapa menit kemudian dokter itu pun menyudahi pemeriksaannya.

"Semuanya baik-baik saja. Kalau begitu saya permisi, jangan lupa obatnya diminum ya. Pagi."
Dokter itu pamit dan meninggalkan Danar dan Audrey.

Selang beberapa menit berikutnya pintu kamar Danar kembali diketuk.
Tok! Tok! Tok!
Kemudian masuklah seorang gadis manis berambut pendek dengan model Bob-sebahu.

"I-sabel.." ucap Danar.
Audrey hanya bisa melihat interaksi mata Danar dan Isabel.

"Ya" sahut Isabel. "Apa kabar, Danar?" lanjut Isabel.
"Baik. Kamu?"
"Ya. Maaf Audrey, boleh tinggalin kami sebentar gak? Aku mau ngomong sama Danar." pinta Isabel.
"Ya, baiklah. Aku akan tunggu di luar." Audrey meng-iya-kan.
******

Tak lama kemudian Isabel meminta Audrey masuk ke kamar Danar. Mata Isabel terlihat sembab. 'Apa yang mereka bicarakan?' batin Audrey. Saat Audrey melihat mata Danar, ternyata mata kekasihnya itu pun memerah.

Isabel memulai kembali pembicaraan, namun kali ini bersama Audrey juga.
"Maaf Drey karna kamu udah nunggu lama."
"Gak papa kok. Emangnya kalian tadi ngomongin apa?" tanya Audrey polos.
"Drey, dua hari lagi aku bakalan pindah."
"Pindah? Maksudnya? Ke mana, Bel?"
"Luar negeri. Kalifornia, Universitas Stanford..."
"Universitas Stanford?"

To Be Continued . . .


Umi Yanti

31 Mei 2012
Read the rest ^,^

Minggu, 13 Mei 2012

Bawalah Aku ke Hatimu : VII

"Danar?" ucap Audrey tersenyum halus.

Mata Danar tampak berkaca-kaca. Mungkin karena perasaannya yang sulit diungkapkan dengan kata-kata yang membuat Danar hingga saat ini hanya memandangi Audrey dengan penuh arti. Diam-diam ternyata Isabel sedang memperhatikan Danar dan Audrey dari luar ruangan. Isabel ikut larut ke dalam perasaan haru tersebut. Dirinya merasa sangat bahagia karena Danar telah sadar dari komanya. Setelah setahun berlalu akhirnya Isabel kembali dapat melihat mata cokelat tajam Danar. Sungguh kebahagiaan yang amat besar bagi Isabel!

Keesokannya Audrey bangun lebih awal dari biasanya. Ayu menjadi sedikit terkejut akan kelakuan adiknya itu. Bangun lebih awal, tersenyum, mengalunkan sebuah lagu, dan ditambah lagi dengan membersihkan halaman. Ayu pun menghampiri Audrey.

"Drey! Kayaknya kamu lagi seneng niih. Tumben banget mau bangun pagi-pagi dan ngebersihin halaman."
"Oh iya! Aku lupa cerita ya, Kak?" Audrey menyadari.
"Cerita soal apa, Drey?"
"Danar, Kak! Danar!"
"Danar? Dia sudah sadar ya?!" tebak Ayu dengan spontan.
"Betul, betul sekali, Kak!"
Audrey segera memeluk Ayu.
*****

Kevin sedang memandangi handphone-nya. Berharap ada sebuah panggilan masuk bertuliskan nama Suzan. Namun sejak 15 menit yang lalu handphone Kevin sama sekali tidak berbunyi. Rupanya Kevin lupa mengaktifkan handphone-nya.

"Sialan! Aku lupa aktif-in handphone lagi! Pantes aja dari tadi ni benda diem aja!" umpat Kevin dengan kesal.

Lalu Kevin menekan tombol merah yang ada pada handphone tersebut untuk beberapa detik dan dengan seketika handphone-nya telah aktif. Namun tetap saja tidak ada telepon maupun SMS yang masuk. Rasanya dia sangat merindukan Suzan.

"Syukur deh kalo Danar sudah sadar. Sekarang kalian bisa bersama lagi. Tapi gimana dengan Isabel?" tanya Ayu.
"Isabel... Emm, dia..."
"Ya sudah, nanti aja mikirin dia. Sekarang kamu harus fokus ke Danar terlebih dahulu, oke?"
Audrey hanya mengangguk.

Siangnya Audrey mengunjungi Danar. Danar terlihat lebih segar. Dengan senyumnya yang khas mampu membuat Audrey semakin bahagia. Karena keadaan Danar yang masih belum bisa mengkonsumsi makanan selain makanan dari rumah sakit, Audrey pun batal membelikan cokelat, cemilan favorit Danar. Namun Audrey telah menemukan gantinya.

"Danar!" kejut Audrey.
"Audrey." Danar tersenyum.
"Nih, aku bawa hadiah buat kamu. Tapi bukan cokelat."
"Jadi, apa?"
"Coba deh buka!"
"Waah, kotak musik. Bagus banget, makasih ya Drey!"
Danar pun mencium pipi kanan Audrey.

Sementara di waktu yang bersamaan Suzan sedang asyik bermain dengan komputer kesayangannya. Ia sibuk berkutik dengan tugas kampusnya. Ia pun membuka Winamp dengan memutar sebuah lagu.

Namaku cinta ketika kita bersama
Berbagi rasa untuk selamanya
Namaku cinta ketika kita bersama
Berbagi rasa sepanjang usia
Hingga tiba saatnya aku pun melihat
Cintaku yang khianat, cintaku berkhianat
Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
Aku tenggelam dalam lautan luka dalam
Aku tanpamu butiran debu

*****

To Be Continued . . .


Umi Yanti

13 Mei 2012
Read the rest ^,^

Kamis, 19 April 2012

Bawalah Aku ke Hatimu : VI

Setelah 2 minggu berlalu, Suzan dan Kevin memutuskan untuk tidak saling menghubungi satu sama lain. Mereka merenungi apa yang harus mereka lakukan untuk kelanjutan hubungan mereka. Apakah harus dilanjutkan atau diakhiri sampai di sini?

Kevin sedang duduk di sebuah gazebo yang tepat berada di depan kamarnya. Di sekelilingnya ada banyak sekali jenis bunga yang sedang bermekaran. Aroma khas yang keluar dari bunga-bunga tersebut membuat pikiran Kevin cukup tenang. Udara pun terasa sejuk. Sesaat kemudian ia tertidur sambil memeluk foto dirinya bersama Suzan.

"Kak, aku mau ke rumah sakit. Kakak mau ikut gak?" tanya Audrey pada Ayu.
"Sorry banget Drey, kakak juga mau pergi nih. Ada urusan mendadak di kampus."
"Oh, kalo gitu kita bareng aja kak."
"Oke, tunggu bentar ya."

Setelah menutup dan mengunci pintu rumah dan pagar mereka pun segera menyetop sebuah taksi. Di tengah perjalanan, Audrey tiba-tiba menyuruh taksi itu berhenti dan segera turun.

"Drey, kamu mau kemana?" teriak Ayu.
"Sebentar kak, aku mau beli sesuatu!"

Tidak lama kemudian Audrey kembali dengan membawa satu buket bunga Chrysanthenum ungu yang memiliki arti keinginan kuat untuk sehat. Ayu yang melihat Audrey membawa bunga tersebut pun tersenyum halus.

"Ini hadiah untuk Danar." ucap Audrey bersemangat.

Sepanjang perjalanan Audrey terus tersenyum. Entah mengapa ia merasa sangat bahagia dan tenang.
*****

"Danar, happy 3rd anniversary. Hari ini gak terasa ya kita udah jadian selama 3 tahun. Tapi sayang selama setahun ini kamu terus tidur... Aku mohon kamu bangun ya, biar kita bisa ngerayain bareng."

Audrey mengecup kening Danar dengan lembut. Mengelus pipinya. Menggenggam tangannya. Dan memeluknya dengan hangat. Air mata Audrey mengalir di pipi Danar. Audrey teringat dengan bunga yang ia beli tadi. Ia segera meletakkannya di samping ranjang Danar. Ia tersenyum.

Dengan perlahan Danar menggerakkan bola matanya. Ia membuka kelopak matanya dengan amat perlahan. Audrey yang melihat kejadian itu terkejut. Ia langsung menekan tombol untuk memanggil dokter. Audrey berulang kali menekan tombol tersebut. Ia menggenggam erat jari-jari lemas Danar.

Akhirnya Dokter pun tiba dengan dua perawat. Mereka segera memeriksa kondisi Danar. Audrey tersenyum bahagia hingga ia meneteskan air mata. Ia meraih kalung pemberian Danar.

"Bagaimana dok keadaan Danar?" tanya Audrey dengan antusias.
"Syukurlah, kondisinya cukup stabil. Dia sungguh beruntung. Nanti kami akan memeriksanya lebih lanjut. Kami permisi." jelas dokter.
"Terima kasih Dok! Terima kasih!"

Dokter dan perawat pun keluar. Kini tinggallah Audrey dan Danar di dalam ruangan itu. Audrey menghampiri ranjang Danar dengan senyum. Namun Tidak ada ekspresi apa pun yang ditunjukkan oleh Danar. Audrey menjadi ragu. Ia memelankan langkah kakinya. Raut wajahnya menjadi sedih. Tetap tidak ada ekspresi dari Danar. Wajahnya dingin, seolah-olah tidak memperdulikan Audrey.

"Danar..."
Tidak ada jawaban.

"Danar, kamu kenapa diam? Kamu gak inget sama aku ya? Aku Audrey. Audrey. Kamu inget kan?"
Tetap tidak ada jawaban.

"Eee, setahun yang lalu kamu kecelakaan terus koma. Waktu itu kita mau ngerayain hari jadi kita yang ke-2. Mmm... Hari ini kita anniversary yang ke-3 loh. Kamu inget kan? Oh iya, kalung ini kamu loh yang kasih ke aku..."

"I LOVE YOU, Audrey." ucap Danar memutuskan perkataan Audrey.
*****

To Be Continued . . .


Umi Yanti

19 April 2012
Read the rest ^,^

Sabtu, 14 April 2012

Bawalah Aku ke Hatimu : V

“Kevin, kamu sebenernya kenapa? Aku bingung sama kamu.”
“Maafin aku Suzan. Aku Cuma ingin jujur sama kamu, aku gak ingin kamu tau hal ini dari orang lain.”

Raut muka Kevin benar-benar menunjukkan bahwa ia sebenarnya tidak ingin Suzan mendengar pengakuannya. Namun, mungkin akan lebih baik jika Suzan mendengar langsung penjelasan itu dari Kevin.

“Tapi vin...”
“Suzan, aku sayang banget sama kamu, kamu tau kan?”
“Ini, ini bikin aku sakit banget. Aku...” cairan hangat di pelupuk mata Suzan pun tumpah.

Suzan pun berlari meninggalkan Kevin. Kevin mengejar. Namun, sesaat kemudian Suzan membalikkan badannya dan melarang Kevin untuk mengejarnya. Ia sedang ingin sendiri. Kevin yang juga merasa sedih tidak dapat berbuat apa-apa.

Tidak jauh dari taman itu, masih ada Isabel dan Audrey yang juga sibuk dengan masalah mereka sendiri. Isabel pun menjelaskan apa yang selama ini ia alami dan rasakan. Tidak mau kalah dengan Isabel, Audrey pun mengatakan bahwa Isabel tidak pantas menjadi sahabatnya lagi karena ia telah menyembunyikan hal ini darinya.

“Kenapa kamu gak pernah cerita sama aku? Kalo aja kamu bilang dari dulu, mungkin kita gak bakal kayak gini Bel!” Audrey memarahi Isabel.
“Semua ini demi Danar. Aku biarin kalian bersatu karena aku tau Danar sayang banget sama kamu. Danar memang sejak lama suka sama aku, tapi sejak kehadiran kamu dia mulai suka sama kamu. Sebagai orang yang sangat cinta sama dia, aku rela lepasin dia biar kalian bisa bersama. Aku rela Drey.”
“Jadi, sebenarnya aku adalah batu penghalang kalian, penghalang cinta kalian. Kalo aku gak pernah muncul di antara kalian, mungkin kalian bakalan bisa sama-sama.” Audrey menyesal.
“Drey, aku benar-benar minta maaf, aku cuma mau jujur sama kamu.”
“Aku ngerti Bel. Aku juga gak bisa nyalahin kamu atau pun Danar. Kamu tau kan, cinta aku begitu besar buat Danar. Mungkin sebaiknya untuk beberapa saat ini, kita gak usah ketemu dulu.” pinta Audrey.
“Iya, benar. Mungkin akan lebih baik.”

Mereka pun pulang. Sesampainya di rumah, Ayu heran melihat mata sembab adiknya itu. Audrey segera berlari menaiki tangga. Membuka pintu kamarnya dan meluncur di tempat tidurnya. Ia menarik foto Danar yang berada di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Kemudian dipeluknya foto itu.

Ayu menyusul Audrey. Ia sangat bingung dengan sikap tidak wajar Audrey. Ia sangat yakin telah terjadi sesuatu. Di dalam kamar Audrey sedang mengalun sebuah lagu yang di bawakan oleh M2M.

Did I lose, my love to someone better?
And does she love you like I do?
I do, you know I really really do.
Well hey, so much I need to say.
Been lonely since the day.
The day you went away...
So sad but true, for me there’s only you.
Been lonely since the day.
The day you went away...

Ayu segera mengecilkan volume lagu tersebut. Ia mendekati Audrey dan berusaha mencari tau apa yang telah terjadi.

“Drey, kamu kenapa?”
“Kak...” pandangan Audrey tidak jelas karena di penuhi oleh air mata.
“Iya, kenapa kamu nangis? Apa ada hubungannya sama Isabel?” Ayu menebak.

Dengan perlahan Audrey menjelaskan semua yang telah terjadi antara dirinya dan Isabel. Dengan perasaan iba, Ayu terus mendengarkan cerita adik sepupunya itu. Audrey sekarang berada di dalam pelukan hangat Ayu.

“Untuk itulah selama ini kakak kurang suka sama Isabel, kakak merasa ada yang ia sembunyikan. Dan sekarang benar kan? Ia benar-benar menyembunyikan sesuatu dari kamu.”
“Tapi, sejujurnya aku tidak marah padanya. Melainkan aku merasa bersalah pada Isabel, kak.”
*****
To Be Continued . . .


Umi Yanti

13 April 2012
Read the rest ^,^

Sabtu, 07 April 2012

Bawalah Aku ke Hatimu : IV

1 bulan kemudian...

"Aduh!" rintih Audrey.
"Drey!"

Kevin segera membantu Audrey berdiri. Audrey terjatuh karena tali sepatunya terlepas. Kevin sangat mengkhawatirkan Audrey.

"Drey, lutut kamu berdarah..."
"Ah, masa'?"
"Sini, kita ke UKS."
"Ah, gak usah deh. Cuma luka kecil kok." Audrey menolak.
"Biarpun luka kecil itu harus diobatin."

Dengan terpaksa Audrey pun menuruti bujukan Kevin untuk ke UKS. Di sana mereka hanya berdua. Kevin segera mengobati luka Audrey. Sudah sejak seminggu yang lalu saat mereka sedang berdua Kevin sering merasa gugup. Apalagi ketika melihat rintihan Audrey, ia sangat merasa cemas.
*****

Pagi ini udara cukup segar di Jakarta. Jalanan terlihat sepi dan kendaraan masih sedikit yang lalu-lalang. Isabel sedang mengajak jalan-jalan si Lamborghini kuningnya. Seminggu sekali Isabel selalu membawa mobil tersebut untuk di service. Kemudian ia mengambil handphone yang ada di dalam tasnya dan menelepon Audrey.

"Halo?"
"Drey, kita jalan-jalan yok!" ajak Isabel.
"Emm, ke mana?"
"Ke mana ya? Entar aja deh nentuin tempatnya. Sekarang aku jemput kamu dulu ya. Siap-siap gih!"
"Oke deh. Tunggu bentar. Bye."

Tit. Telepon dimatikan. Pikiran Isabel menerawang. Nampaknya ini bukanlah pertemuan biasa yang sering ia lakukan dengan Audrey.

Di rumahnya, Audrey sedang sibuk merapikan bajunya. Maklum, Audrey memang sedikit bermasalah dengan yang namanya 'kerapian'. Ayu yang melihat Audrey sedang membereskan kamarnya turut membantu.

"Drey, kamu mau kemana?" tanya Ayu sambil melipat pakaian Audrey yang berserakan.
"Kakak mau ikut? Aku mau jalan bareng Isabel." jawab Audrey sambil tersenyum.
"Owh. Kamu sayang banget ya sama Isabel?"
"Loh? Kakak kok tiba-tiba ngomong kaya gitu sih? Sebenernya kakak kenapa gak suka sama Isabel?"
"Kakak cuma ngerasa ada yang aneh sama Isabel. Dia kaya nutupin sesuatu dari kamu deh."
"....."

Selesai merapikan kamar Audrey, mereka segera menuruni anak tangga. Klakson mobil Isabel telah berbunyi yang menandakan bahwa Isabel telah tiba. Isabel tersenyum melihat Ayu. Ayu hanya mengacuhkannya. Audrey pun pamit dan berjalan menuju mobil Isabel. Mobil yang mereka naiki itu pun melaju meninggalkan rumah Audrey.

Di dalam mobil, Isabel terlihat tidak tenang. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Audrey yang melihat gelagat aneh Isabel merasa bingung. Tapi ia mencoba untuk tidak memikirkannya. 'Mungkin saja Isabel sedang ada sedikit masalah' batinnya.

Saat Audrey hendak menanyakan tujuan mereka, tiba-tiba Isabel menghentikan laju mobilnya. Hal itu membuat Audrey sedikit terkejut dan tubuhnya tersentak ke depan.

"Bel, kamu kenapa?" tanya Audrey.
"Drey, aku minta maaf!" ucap Isabel sambil terisak.

Air mata isabel mengalir. Audrey yang tidak mengerti semakin bingung dengan sikap sahabatnya itu. Ia mencoba menenangkan Isabel, namun Isabel terus menangis tersedu-sedu. Audrey semakin khawatir.

"Bel? Kamu jangan kaya gini. Aku jadi ikut sedih."

Isabel tetap tidak menghiraukan kata-kata Audrey. Isabel mengelap mata dan pipinya menggunakan tissue. Lalu menatap mata Audrey dalam-dalam. Ia melihat wajah sahabat yang ada di hadapannya. Alis mata Audrey sedikit naik pertanda bahwa ia bingung dengan kelakuan Isabel.

"Drey, aku mau ngomong sesuatu sama kamu."
"Apa?" balas Audrey sambil mengelus rambut Isabel.
"Se-sebenarnya sejak, sejak dulu aku udah suka sama, ee... sama Da-nar."
"Bel? Kamu ngomong apa?"

Di sisi lain, Kevin sedang di taman bersama Suzan. Suzan yang memakai dress berwarna pink yang menjuntai hingga lutut terlihat sangat cantik. Ia selalu memasang senyumnya. Semakin manis.

"Suzan, kamu cantik banget saat ini..." puji Kevin.
"Haha, makasih. Tapi maksud kamu selama ini aku gak cantik, gitu?"
"Kamu cantik terus kok. Cuma hari ini terlihat beda."

Kevin memeluk Suzan. Kini Suzan sedang merasakan hangatnya dada bidang Kevin. Kevin mengelus rambut Suzan. Suzan terus tersenyum.

"Suzan, aku mau jujur."
"Jujur tentang apa?" mata Suzan menatap mata Kevin.
"Aku benar-benar sayang sama kamu. Tapi entah mengapa saat ini aku juga ngerasa aku sayang banget sama Audrey. Aku gak tau kenapa..."

Suzan mendongakkan kepalanya seakan-akan tidak percaya atas apa yang ia dengar barusan.
*****
To Be Continued . . .


Umi Yanti

7 April 2012
Read the rest ^,^

Kamis, 05 April 2012

Bawalah Aku ke Hatimu : III

"Yu, kemarin saya sudah ngumpulin formulirnya."
"Oke.. Selamat bergabung di klub seni ya Kevin." ucap Ayu.
"Makasih."
"Oh iya. Kenalin ini Audrey, adik saya."
"Oh hai. Saya Kevin."
"Saya Audrey." Audrey tersenyum.

Mereka pun pergi ke kantin untuk sarapan bersama. Tiba-tiba handphone Kevin berbunyi. Kevin pun segera pamit pulang dan menjawab panggilan itu.

"Kevin! Kamu dimana? Katanya kita mau rayain hari jadi kita yang ke-2 tahun?! Gimana sih?" suara dari seorang gadis di handphone Kevin
"Aduh! Maaf banget Suzan. Aku jemput sekarang ya?" ucap Kevin.
"Uh! Yaudah, cepetan ya. Bye."

Kevin menarik nafas dan menghembuskannya. Ia segera pamit dengan Ayu dan Audrey. Di perjalanan Kevin terus tersenyum. Ia memang sangat menyukai kekasihnya itu, Suzan.

Di sisi lain dari kota Jakarta tersebut, Audrey sedang menjenguk Danar di rumah sakit. Ia membawa satu buket bunga mawar biru. Karena berdasarkan artikel di salah satu blog seseorang yang pernah Audrey baca, mawar biru dapat diartikan sebagai perasaan cinta yang begitu dalam terhadap seseorang seperti kesungguhan cinta Audrey pada Danar.

Audrey mencium kening Danar sambil tersenyum. Mencoba berkomunikasi dengan Danar. Lalu membisikkan satu kalimat yang amat dalam, "I LOVE YOU, Danar".
*****

2 minggu kemudian...
Di dalam sebuah restoran bintang 5 Kevin dan Suzan sedang makan malam.

"Suz, ini buat kamu."

Kevin mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna pink dari sakunya.

"Apa ini?" tanya Suzan.
"Ini hadiah buat pacar aku yang paling cantik!"
"Hahaha gombal! Makasih ya Vin!"
"Coba buka dong." pinta Kevin.
"Oke, bentar ya..."

Dengan perlahan Suzan membuka kotak kecil tersebut. Namun sebelum Suzan sempat membuka hadiah itu, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang memanggil Kevin.

"Kevin!" seru orang itu.
"Audrey? Ayu?"

Kedua gadis tersebut segera mendatangi meja Kevin dan Suzan. Audrey dan Ayu tersenyum pada Suzan. Suzan membalas senyum mereka.

"Hai, kalian sedang makan malam ya?" tanya Ayu.
"Iya. Kalian?"
"Owh, kami baru aja selesai makannya. Ini kami mau pulang." jelas Audrey.
"Oh iya kenalin ini Suzan, pacar aku." Kevin memperkenalkan Suzan pada Audrey dan Ayu.
"Audrey."
"Ayu."
"Suzan."

Setelah berbincang sebentar Ayu dan Audrey pun memutuskan untuk pulang.

"Kapan-kapan kita makan bareng yah!" ucap Audrey pada Suzan.
"Iya nih, sekalian nonton bareng!" tambah Ayu.
"Hahaha, oke. Kapan-kapan kita jalan bareng ya." balas Suzan.
"Kami pulang ya."
"Hati-hati." ucap Kevin dan Suzan bersamaan.

Setelah sempat tertunda, Suzan kembali mencoba membuka hadiah kecil dari Kevin. Ketika ia melihat isinya, Suzan terkejut bercampur senang.

"Hah? Cincin?!"
"Iya, itu cincin. Sini aku pasangin ke jari kamu."

Kevin lalu memasangkan cincin berwarna silver itu ke jari manis Suzan. Lalu berkata...

"Ini tanda cinta aku ke kamu. Seseorang bilang ke aku agar membelikan sebuah hadiah tanda pengikat seperti kalung atau cincin buat gadis yang dicintai. Kamu suka kan?"
"Suka! Suka banget. Makasih ya Vin."
"Jaga baik-baik ya cincin kita."
*****
To Be Continued . . .


Umi Yanti

31 Maret 2012
Read the rest ^,^

Sabtu, 31 Maret 2012

Bawalah Aku ke Hatimu : II

"Ayo sadar. Buka matamu, aku mohon..." ucap seorang gadis berambut cokelat itu.
Gadis itu sedang berdiri sambil menggenggam erat tangan seorang pria yang sedang terbaring di atas tempat tidur salah satu rumah sakit di Jakarta. Matanya memerah. Kemudian ia keluar dari ruangan itu dengan meneteskan air mata.

"Bel!"

Seseorang memanggil nama gadis itu. Ia berlari menuju gadis itu.

"Bel, apa kabar?"
"Kevin, baik."
"Lama gak liat kamu, ke mana aja? Mau pulang?"
"Emm... Beberapa hari ini aku sibuk, banyak tugas. Ya udah, aku duluan ya."
"Hati-hati Isabel!"

Isabel berlalu melewati koridor. 'Danar aku akan selalu menunggumu, selalu.'

Isabel mendatangi rumah Audrey. Ayu membuka pintu dan sedikit terkejut atas kehadiran Isabel. Sejak lama Ayu memang kurang menyukai Isabel. Namun bagaimana pun persahabatan Audrey dan Isabel terus berjalan. Audrey menganggap sikap Ayu adalah hal yang wajar. Di dunia ini tentunya tidak semua orang menyukai hal yang sama, begitu pun dengan Ayu.

Isabel menaiki tangga, berjalan menuju kamar Audrey. Audrey yang sedang membaca novel merasa sangat senang dengan kehadiran Isabel. Ia langsung memeluk sahabatnya itu.

"Bel! Lama banget kita gak ketemu. Aku kangen sama kamu." ucap Audrey.
"Iya, aku juga. Kamu tau kan, aku sedang banyak tugas. Aku pusing nih." keluh Isabel.
"Hemm, gimana kalo besok kita nonton." ajak Audrey.
"Wah boleh juga!" Isabel menyetujui.

Mereka pun mengobrol. Melepas kerinduan. Mereka saling mengenal sejak kelas 2 SMA. Sudah 5 tahun persahabatan mereka terjalin. Isabel sangat mengenal Audrey. Mulai dari kecelakaan orang tua Audrey, Ayu yang selalu ada untuk Audrey, hingga hubungan antara Audrey dan Danar. Begitu pun Audrey. Ia mengenal baik sahabatnya itu. Namun sayang ada satu hal yang tidak di ketahui Audrey.

Jam telah menunjukkan pukul 16:40. Isabel pamit kepada Ayu. Audrey mengantar Isabel hingga pagar. Isabel mengeluarkan kunci mobilnya. Sesaat kemudian mobil kuning ber-plat B 154 BEL itu pun melaju.
*****

Di sore yang sedang turun hujan 3 tahun yang lalu, tepatnya di hari kelulusan SMA.
Sosok gadis manis dengan rambut panjang dengan model ponytail sedang menunggu seseorang di bawah pohon besar. Ia masih memakai seragam sekolahnya. Tubuhnya mulai basah kuyup. Lalu datanglah lelaki tinggi berkulit cokelat. Lelaki itu mendekati si gadis.

"Bel." sapa lelaki itu.
"Da-nar." gadis itu menggigil.

Danar memasangkan jaketnya ke tubuh Isabel.

"Kamu mau ngomong apa? Sekarang kan lagi ujan. Ntar kamu sakit." Danar khawatir.
"Gak kok, aku baik-baik aja. Ada hal penting yang mau aku omongin."
"Soal apa?" tanya Danar.
"Sebenarnya sejak setahun yang lalu, aku... aku..."
"Kenapa?" Danar penasaran.
"Aku suka sama kamu, Danar." bibir Isabel bergetar karena kedinginan dan gugup.
"Bel?"

Danar membalikkan badannya. Ia memegang kepalanya. Terasa sedikit sakit. Untuk sesaat keduanya terdiam. Lalu Danar pun membalikkan badannya lagi dan menghadap Isabel. Kedua tangannya memegang bahu Isabel.

"Bel, kamu kedinginan. Kita pulang ya, aku antar." ajak Danar.
"Nggak, aku belum mau pulang. Aku mau nungguin jawaban kamu."
"Nanti aja. Kita pulang dulu. Nanti kamu sakit." Danar semakin mencemaskan Isabel.
"Nggak!" Isabel bersikeras.
"Baiklah. Aku jawab."

Danar menggosokkan kedua tangannya untuk menghilangkan kegugupannya.

"Bel, aku sebenarnya sayang banget sama kamu. Sejak kita kelas satu, aku udah suka sama kamu. Kelas dua pun aku masih menyimpan rasa itu. Tapi aku gak punya kesempatan untuk ungkapinnya. Tapi sejak aku kenal sama Audrey semuanya berubah. Aku mulai suka sama Audrey. Audrey pun juga suka sama aku. Dan aku tau, kamu sahabat Audrey kan? Besok aku akan nyatain cinta ke dia. Jadi, maafin aku Bel..." ungkap Danar.
Isabel menahan tangis. Ia mencoba tersenyum.

Danar meraih tangan kanan Isabel. Dan mengajaknya pulang. Audrey masih terpaku. Mereka menaiki mobil. Danar melajukan mobilnya di bawah guyuran hujan. Air mata Isabel menetes. Tidak ada suara. Hening. Hanya terdengar suara hujan yang mengiringi tangisan Isabel. Keduanya terdiam.

"Bel, maafin aku."
"Aku terlambat ya?" tanya Isabel sambil memaksakan senyumnya.
"Bel.."
"Seandainya sejak setahun yang lalu aku bilang ini ke kamu, mungkin hasilnya gak kayak gini."
"Maaf Bel."

Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di rumah Isabel. Isabel melepaskan jaket Danar. Ia menyerahkannya kepada Danar. Namun Danar menolak, ia menyuruh Isabel menyimpannya. Saat akan turun dari mobil, Isabel mengecup pipi kiri Danar.

"Aku akan selalu menunggumu, Danar." ucap Isabel dengan senyum yang yakin.
*****
To Be Continued . . .


Umi Yanti

31 Maret 2012
Read the rest ^,^

Bawalah Aku ke Hatimu : I

Gadis manis itu bernama Audrey. Ayah Audrey merupakan pria Jepang yang sejak muda telah pindah dan berubah kewarganegaraan menjadi warga negara Indonesia. Makanya tidak heran jika kulit Audrey putih bersih dan memiliki mata sipit yang indah. Ia memiliki rambut bergelombang sebahu. Audrey juga dapat dikategorikan pintar, ia selalu menjadi sang juara di kelasnya. Sekarang Audrey telah kuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta, kota kelahiran ibunya. Audrey tinggal bersama saudara sepupunya yang lebih tua 2 tahun darinya, Ayu. Sudah sejak 4 tahun yang lalu orangtua Audrey meninggalkannya. Mereka meninggal akibat kecelakaan pesawat saat hendak pulang dari Jepang.

"Drey, kita ke perpus yuk!"
"Gak ah. Aku mau di sini aja deh. Kakak sendiri aja ya."
"Ya udah, ati-ati ya, jangan ngelamun."
"Oke deh."

Ayu pun berlalu. Namun tiba-tiba Audrey berubah pikiran. Ia segera berdiri dan menyusul langkah Ayu. Ketika hendak menegur Ayu, tiba-tiba ada seorang pria yang menghampiri Ayu.

"Yu, nama kamu Ayu kan?"
"Eh, iya. Kamu siapa ya?"
"Saya Kevin. Baru pindah ke sini. Kamu ketua klub Seni kan?" tanya Kevin.
"Iya. Kamu mau gabung ya?" tebak Ayu.
"Yupz! Gimana cara daftarnya?"
"Kamu minta aja formulirnya di ruang klub seni. Terus isi dan jangan lupa pake foto. Ntar di kumpulin lagi dan laporan ke saya." jelas Ayu.
"Owh, makasih ya." ucap Kevin dengan senyum tipis.

Kevin berjalan melewati Audrey. Audrey hanya melihatnya sekilas dan segera memanggil Ayu. Mereka pun menuju perpustakaan.

Di dalam perpustakaan Audrey mencari novel. Novel yang bertemakan kisah asmara. Selalu. Audrey memang menyukai novel percintaan. Namun, apakah kisah cintanya akan berakhir bahagia seperti kisah di novel yang sering ia baca?

10 bulan yang lalu Danar mengalami kecelakaan. Ia tertabrak motor saat hendak memberikan kado untuk Audrey. Saat itu mereka akan merayakan hari jadi mereka yang ke 2 tahun. Namun sayang, Danar dinyatakan koma dan hingga kini ia belum sadar. Meskipun begitu, Audrey tetap mencintai dan akan menjaga cinta itu untuk Danar.

"Drey, kalung ini sebagai pengikat kamu dan aku. Jadi selama kalung ini masih ada di leher kamu, aku akan selalu jadi milik kamu dan kamu akan selalu jadi milik aku." ucap Danar.
"Oh ya? Emang bisa?"
"Ya bisa lah. Kalung ini kan dari aku dan aku sangat cinta sama kamu. Jadi kamu janji ya, kalo kamu bakal jagain kalung ini."
"Pasti dong. Aku kan sayang banget sama kamu." Audrey memeluk Danar.

Audrey menggenggam kalung pemberian Danar. 'Kamu benar. Hingga sekarang kamu masih milik aku. Aku akan terus menunggu kamu Danar.'
*****
To Be Continued . . .

Umi Yanti

30 Maret 2012
Read the rest ^,^