Minggu, 07 September 2014

Segenggam Kacang Dava untuk Kania : VII

"Sayang, ayo kita pergi" ucap seorang wanita sambil membawa beberapa koper besar.

Bocah berusia 4 tahun yang belum mengerti apa-apa itu menuruti sang Mama. Mereka menaiki taksi dan berlalu meninggalkan rumah mewah itu. Di dalam mobil, bocah kecil itu terlelap. Sang Mama mengelus rambut anaknya. Tetes demi tetes air mata berjatuhan dari mata sembab wanita itu.

"Dava, kita akan memulai kehidupan yang baru." wanita itu mengecup pelan puncak kepala anaknya.

Dava dan Kania telah tiba di depan rumah Kania. Dua sejoli itu memasuki rumah Kania. Pintu tak terkunci namun tak ada orang di sana. Kania melangkah menuju kamar Mamanya dan diikuti oleh Dava.

"Mama?" ucap Kania kaget melihat sang Mama terkulai lemah di atas tempat tidur.
"Kania..."
"Mama kenapa?"
"Tenang, Mama cuma kelelahan kok. Tadi Mama Dava sudah bantuin Mama." ujar Mama Kania sambil melirik Dava.
"Syukur kalo Tante baik-baik aja. Mama di mana, Tante?" sambung Dava.
"Udah pulang. Coba deh kamu cek, kasian Mama kamu sendirian di rumah."
"Baiklah, kalo gitu Dava pamit ya, Tante." Dava pun mencium tangan Mama Kania.
"Kania antar Dava ke depan ya, Ma."
"Iya, Sayang."

Setelah menutup pintu kamar, Kania merangkul tangan Dava. Berjalan beriringan menuju pintu depan. Mereka saling melamparkan senyum. Sesampainya di ambang pintu, dengan manja Kania menyenderkan kepalanya di pundak Dava seolah-olah tak ingin membiarkan Dava pulang.

Dava membelai kepala Kania. "Gue harus pulang."
Kania menghela napas. "Ya udah, makasih ya buat hari ini. Gue ga nyangka kita bisa kaya gini."
"Sama-sama. Gue juga seneng banget hari ini."

Dava bingung melihat rumahnya tampak sepi. Tidak biasanya sang Mama sudah tidur, pikirnya. Saat hendak menaiki tangga, tiba-tiba pintu kamar Mama terbuka. Mama Dava keluar dari kamar dengan tampang kusut seperti sedang memikirkan hal yang berat.

"Dava.." panggil Mamanya pelan.
"Ada apa, Ma?"
"Mama mau bicara."

Mereka duduk di sofa depan tivi. Mama Dava memperhatikan wajah anaknya. Ia melihat Dava terlihat bahagia. Mengetahui hal itu, Mama Dava menjadi tidak tega untuk mengatakan apa yang hendak ia sampaikan. Ia pun mengurungkan niatnya.

"Kamu kelihatan senang. Kamu dan Kania kemana aja tadi?" tanya Mama Dava dengan senyum halus.
"Kami cuma ke toko hewan terus makan malam, hehe"
"Mama bahagia kalo kamu bahagia." Mama Dava pun memeluk hangat anaknya itu.
******

Hari ini terlihat berbeda dengan hari-hari biasanya. Tanpa disuruh Dava dan Kania pergi ke kampus bersama-sama. Mama Kania senang melihat perubahan kecil mereka. Namun, lain halnya dengan Mama Dava. Ia juga terlihat bahagia, tetapi wajahnya juga terlihat tidak tenang.

Mama Kania sedang menikmati harinya di rumah. Ia terlihat bahagia. Ia memasak makanan kesukaan sang putri. Usai memasak dan menyiram tanaman ia pergi ke rumah Dava. Waktu sudah menunjukkan pukul 14:00. Saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba terdengar suara Dava.

"Ma, Dava pulang."
"Sini, sayang." ucap Mama Dava dari dalam rumah.

Dava dan Mamanya sama-sama terkejut. Dava membawa Kania bersamanya dan ternyata Mama Kania juga sedang ada di rumah Dava. 'Kebetulan sekali' ucap Dava di dalam hati.

Dava dan Kania duduk berdampingan di sofa yang menghadap Mama mereka. Dava memunculkan mimik seriusnya. Dava menggenggam tangan Kania di hadapan orangtuanya. Mama Kania tersenyum.

"Tante, Mama, Dava dan Kania sudah mengambil keputusan. Kami mau melanjutkan perjodohan ini." ujar Dava sontak membuat mereka terkejut begitu pun Kania.

Kania meoleh pada Dava karena tak menyangka Dava akan mengatakan hal itu secepat ini. Mata Dava masih menatap Mamanya dan Mama Kania.

"Sa..."
"Ga bisa!" Mama Dava memotong ucapan Mama Kania.
"Mbak?"
"Perjodohan ini ga bisa dilanjutin. Perjodohan ini batal!" ucap Mama Dava dengan berat.

Tenggorokan Dava tercekat. Ia merasa kesulitan menelan ludahnya. Ia tak mengerti dengan sikap Mamanya. Bukankah semalam Mamanya berkata bahwa ia bahagia jika Dava bahagia? Dan inilah kebahagian bagi Dava. Ia menatap tajam Mamanya.Dava menoleh pada Kania. Terlihat butiran air mata sudah mengendap di pelupuk matanya.

"Kenapa Mama batalin perjodohan ini?!" sergah Dava pada Mamanya.
"Sayang, perjodohan ini harus dibatalkan."
"Mbak, bukankah kita sudah setuju untuk menjodohkan Dava dan Kania?" tanya Mama Kania yang terlihat mulai kesal.

Kania melepaskan genggaman Dava. Ia berlari yang kemudian dikejar oleh Mamanya. Dava hendak menyusul Kania, namun Mamanya menghalangi.

"Dava! Tetaplah di sini!"
"Ma? Mama kenapa? Ada apa sih?"
"Maafin Mama."
"Ma, tolong kasih tau Dava kenapa Mama batalin perjodohan ini?" pinta Dava lemah.
"Mama ga bisa kasih tau, Sayang."
"Ma, Dava mohon jelasin ke Dava..."
"Mama bilang perjodohan ini batal, artinya perjodohan ini batal! Tapi, meskipun perjodohan ini batal Mama ga melarang kamu untuk dekat sama Kania."

Mama Dava meninggalkan Dava yang masih tidak mengerti atas tingkah Mamanya. Dengan kesal Dava menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya. 'Mama kenapa sih?' batinnya heran.

Di dalam rumah bernuansa putih itu tampak seorang gadis menangis dalam pelukan hangat sang Mama.

"Ma, kenapa Tante batalin perjodohan ini? Apa Kania ada salah ya sama Tante?"
"Mama ga tau sayang, Mama ga tau."
"Ma, Kania sayang sama Dava. Sayang banget."

Mama Kania membelai rambut putri kesayangannya itu. "Nanti Mama bakal bicara sama orangtua Dava. Kamu yang sabar ya. Mama yakin semuanya akan baik-baik saja."

Paginya setelah Dava dan Kania pergi ke kampus, Mama Kania menemui Mama Dava.

"Mbak, kenapa Mbak batalin perjodohan ini? Coba jelasin, Mbak." Mama Kania memulai.
"Maaf, saya ga bisa jelasin apa-apa. Saya juga ga akan berusaha memisahkan Dava dan Kania. Saya ga akan melarang mereka untuk dekat. Saya hanya membatalkan perjodohan ini. Cuma itu."
"Saya benar-benar ga mengerti maksud Mbak."
"Kita lupain perjodohan ini. Anggap saja ini ga pernah terjadi."
"Mana bisa kita lupain ini begitu saja, Mbak! Mbak ga liat? Anak-anak kita sudah mulai dekat. Bahkan mereka sudah memutuskan untuk melanjutkan perjodohan ini, itu artinya mereka sudah mulai saling sayang." balas Mama Kania geram.
"Perjodohan ini batal." Mama Dava bersikeras.
"Apa saya ngelakuin kesalahan, Mbak? Atau Kania sudah bikin Mbak marah?"
"Ga ada yang salah. Kamu, Kania, Dava. Kalian tidak salah. Salahnya adalah kita pernah merencanakan perjodohan ini."
"Saya bingung, Mbak. Ayo Mbak, tolong ceritakan semuanya. Kita cari jalan keluar yang terbaik."
"Inilah jalan keluar yang terbaik untuk kita semua!"

To Be Continued . . .


Umi Yanti
7 September 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar