Tampilkan postingan dengan label Saat Aku Terbangun Dari Tidurku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saat Aku Terbangun Dari Tidurku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Januari 2012

Saat Aku Terbangun Dari Tidurku : Ending

"Begitulah kejadiannya. Kau terlambat, seharusnya kau tiba lebih awal."
"Aku tak tahu. Aku hanya meninggalkannya sebentar. Aku pulang hanya untuknya."
"Tapi ini sudah terjadi. Kau tak akan bisa mengubah apa pun."
"Benar."

Di sebuah area pemakaman, terdengar suara 2 pria. Percakapan yang terjadi di samping sebuah makam yang bertulisakan nama Vily Wijaya.

"Setahun yang lalu Vily kecelakaan dan itu membuat kita kehilangannya untuk selamanya. Aku tahu semua tentang kau dan Vily. Bahkan kepergianmu ke New Jersey. Sedekat apa pun aku dan Vily, tetap tidak akan pernah merubah perasaannya terhadapmu."
"Aku menyesal! Aku ingin ia kembali! A-aku, aku ingin melihat senyumnya..."
"Abram, bersabarlah. Vily sekarang pasti sudah bahagia bersama Ayah dan Ibunya di alam sana. Kau harus yakin."

Kedua pria itu berpelukan. Merasakan kesedihan yang sama, kepedihan yang sama, dan penyesalan yang sama. Erlan tahu itu, tapi tidak dengan Abram.

"Tolong tinggalkan aku sendiri, Erlan."
"Baiklah. Tapi kau sebaiknya segera pulang. Sampai jumpa."
"Terima kasih Erlan, aku percaya padamu."
"Ya, kau memang harus percaya padaku." Erlan tersenyum.

Erlan meninggalkan Abram sendirian di tempat peristirahatan terakhir Vily. Makam Vily terlihat cukup terawat. Seminggu sekali, Ibu tiri Vily selalu menyempatkan dirinya untuk mengunjungi makam Vily dan Ayah. Ia sadar bahwa ia tidak bisa melupakan kebersamaan mereka selama 5 tahun dan betapa besarnya rasa cintanya terhadap Ayah Vily.

Abram terus menangisi kepergian Vily. Perjumpaan 4 tahun yang lalu, kebersamaan selama setahun, dan sekarang semua itu hanya tinggallah sebuah kenangan. Kenangan manis yang tak akan terlupakan. Abram sangat mencintai Vily, tapi ia berjanji akan melanjutkan hidupnya dengan lebih baik demi Vily.
*****

Neeett!
New Message :
Aku akan ke rumahmu. Ada sesuatu yang harus aku serahkan padamu.
From : Erlan

Neeett!
New Message :
Ya, aku tunggu.
From : Abram

"Maaf mengganggu."
"Tidak apa-apa."
"Abram, aku ingin kau menyimpan ini." Erlan mengeluarkan sebuah kalung dari sakunya.
"Ini?"
"Ya, ini kalung yang kau berikan untuk Vily. Tapi sekarang, sebaiknya kau menyimpan kalung itu agar kau selalu ingat dengan kenangan manis kalian."
"Vily..." air mata mengalir di pipiku.
"Baiklah. Kuatkan hatimu. Aku permisi."

Langkah kaki Erlan semakin menjauh. Menjauh. Dan meninggalkan rumahku. Aku berjalan menuju kamarku melalui anak tangga yang tampak terlalu panjang. Langkahku sedikit goyah. Di dalam kamar aku memegang erat kalung itu.

Aku mencoba untuk mengingat semua hal tentang Vily. Perjumpaan pertamaku dengannya di bandara. Hari-hari yang kami lalui bersama. Hari terakhir kami bersama. Dan semuanya. Otakku terus bekerja untuk mengingat itu semua. Aku merindukan senyumannya.

Kalung yang ada di genggamanku sekarang memperjelas ingatanku akan Vily. Hari itu, aku memberikan kalung ini untuknya di pantai. Aku berharap ia akan selalu mengingatku melalui kalung ini, namun sekarang aku yang harus selalu mengingatnya melalui kalung ini.

'Sebaiknya sekarang aku tidur. Tubuhku terasa amat lelah.'

Aku harap semua ini hanyalah mimpi buruk yang tidak akan terjadi. Dan aku akan bisa tersenyum melihat senyuman Vily. Tapi ternyata aku salah,di saat aku terbangun dari tidurku semuanya tidak berubah. Aku masih menggenggam kalung itu. Vily, maafkan aku...

~ The End ~


Umi Yanti

20 Januari 2012
Read the rest ^,^

Kamis, 19 Januari 2012

Saat Aku Terbangun Dari Tidurku : VIII

Kehidupan selama 20 tahun yang telah kunikmati mungkin adalah sebuah mimpi yang sangat indah, namun di saat aku terbangun dari tidurku aku tersadar bahwa semuanya telah menghilang dan pergi meninggalkanku sendiri. Kehidupan yang semula ku anggap menarik dan menyenangkan sekarang berubah menjadi sebuah masalah besar yang tak tahu apakah aku bisa melewatinya.

Tidak ada tempat ataupun seseorang yang bisa kumintai bantuan. Tak ada satupun. Apakah aku bisa bertahan? Entahlah. Seluruh badanku terasa aneh. Perasaanku juga aneh. Ayah... Aku merindukanmu.

Mataku melihat benda yang sangat menyilaukan. Suaraku tertahan. Tenggorokanku sakit karena terus menangis seharian. Tubuhku tak bergeming. Aku hanya terpaku melihat jalan raya yang sepi ini. Ayah, Ibu, mungkinkah kita akan bertemu? Aku ingin sekali bersama kalian.

Braakkk!!!

Tubuhku terhempas. Hatiku terasa hampa, tatapanku kosong, dan tubuhku seakan-akan remuk. Aku tak bisa melihat apa yang ada di sekelilingku. Aku hanya mendengar sayup suara ribut orang-orang yang menghampiriku. Aku merasa hening. Abram, Erlan selamat tinggal...

"Hei! Cepat hubungi ambulans!"
"Jangan, kita langsung bawa ke rumah sakit saja!"
*****

Bye bye bye
Bye bye
I'm doing this tonight
You're probably gonna start a fight
I know this can't be right
Hey baby come on
I loved you endlessly
When you weren't there for me
So now it's time to leave
And make it alone

Don't really wanna make it tough
I just wanna tell you that I had enough
Might sound crazy
But it ain't no lie
Bye bye bye

Aku sedang mendengarkan sebuah lagu yang dinyanyikan oleh N'Sync, aku berharap akan segera menemukan pengganti Abram. Tetapi setelah lagu itu berakhir, aku melihat sosok pria yang telah berdiri di sampingku. Pria yang ku tabrak kemarin. Erlan. Apakah dia akan menggantikan Abram? Jujur saja, perasaanku sekarang menjadi tidak menentu. Bahkan, aku sendiri tidak mengerti.

Many days I've spent
Drifting on through empty shores
Wondering what's my purpose
Wondering how to make me strong
I know I will falter I know I will cry
I know you'll be standing by my side
It's a long long journey
And I need to be close to you

Sejak kepergian Abram, aku selalu menghabiskan hari-hariku dengan terus memikirkan apa keinginanku. Aku merasa tidak memiliki tujuan. Aku berusaha untuk kuat, tegar, dan tersenyum karena Abram menginginkannya. Pada akhirnya aku menangis di kesendirianku.

Tetapi Erlan muncul. Menghilangkan perih hatiku. Aku tahu Erlan akan bersamaku, menemaniku melewati ujian ini, dan oleh karena itu aku ingin selalu ada di dekat Erlan untuk menjalani perjalanan panjang ini.

Do you hear me
I'm talking to you
Across the water across the deep blue ocean
Under the open sky, oh my, baby I'm trying

Boy I hear you in my dreams
I feel your whisper across the sea
I keep you with me in my heart
You make it easier when life gets hard

Keberuntungan! Keberuntunganku bisa mengenal Erlan. Saat ini aku sedang menunggu Erlan untuk mengungkapkan perasaanku. Lagu Lucky yang sedang kudengar menggambarkan perasaanku sekarang. Apakah Erlan mendengar isi hatiku? Aku akan mempertahankannya karena Erlan membuat beban berat yang ku rasakan menjadi lebih ringan.

Antara sadar dan tidak, aku melihat sosok Erlan dan ibu tiriku berada di sampingku. Aku sedang berada di rumah sakit. Aku tidak memiliki daya untuk menggerakkan badanku, atau mengeluarkan kata-kata, bahkan untuk melihat dengan jelas. Aku benar-benar lemas. Bernafas pun terasa amat menyiksa. Udara sangat sulit untuk ku hirup. Mataku tak kuat lagi, semua terlihat gelap dan hilang di telan kegelapan.

'Terima kasih Ibu, Abram, Erlan... Di kehidupan selanjutnya, kita harus lebih baik lagi!'
*****
To Be Continued . . .


Umi Yanti
19 Januari 2012
Read the rest ^,^

Senin, 09 Januari 2012

Saat Aku Terbangun Dari Tidurku : VII

Aku mengganti baju dan mengeringkan rambut. Aku duduk di dekat jendela. Memandangi langit yang mulai cerah. Rintik-rintik hujan yang akan segera reda mengingatkanku pada Vily. Seandainya ia tahu yang sebenarnya...

Saat itu aku sedang berjalan menuju perpustakaan. Melewati lapangan basket. Namun langkahku berhenti saat ku lihat ada sosok gadis yang sedang duduk di kursi, kursi panjang yang berada di pinggir lapangan basket. Aku mendekatinya. Aku duduk di sampingnya. Anehnya ia tidak menyadari kedatanganku, sama sekali. Aku terus memperhatikan wajahnya. Ia menutup matanya. Ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang berada di dunia yang berbeda, mungkin dunia khayal, aku tidak tahu pasti.

Sudah 10 menit aku di sampingnya. Aku tertarik padanya. Bagaimana mungkin ada seorang gadis yang tidak menyadari kehadiran seorang pria selama ini, apalagi ia sedang berada di tempat yang ramai. Apa yang ada di pikirannya?

Sejak saat itu, aku yakin, sangat yakin, dan benar-benar yakin bahwa aku menyukainya. Aku tulus menyukainya. Namun beberapa minggu berlalu, Ayahku memutuskan untuk menjodohkanku dengan putri temannya. Aku tidak bisa menolak. Dan aku tahu itu artinya aku tidak akan bisa memiliki Vily. Selamanya.

2 minggu lagi aku akan bertunangan. Cepat atau lambat hubunganku dengan Vily akan semakin merenggang. Akan semakin menjauh walaupun aku tak mau. Aku ingin selalu berada di sisinya namun aku tak bisa. Maafkan aku Vily, aku sangat menyayangimu dan kau akan terus ada di dalam hatiku. Selamat tinggal.
*****

3 minggu kemudian...

"Hei! Hei! Apa yang kalian lakukan di rumahku?! Kalian tidak bisa melakukan ini!"
"Maafkan kami nyonya, tapi kami harus melakukan ini."
"Berhenti! Aku bilang berhenti! Aku mohon..."

Suara berisik apa itu? Sepertinya ada yang tidak beres. Aku terbangun dari tidurku. Aku segera menuruni anak tangga menuju ruang tamu. Suara ribut itu nampaknya berasal dari sana. Ada 4 pria bertubuh besar di sana. Dan juga Ibu. Ibu sedang menangis di lantai.

"Ibu, apa yang terjadi?" namun ia terus menangis.

Aku mendekati pria-pria itu.

"Apa yang sedang kalian lakukan?"
"Maaf nona, kami hanya menjalankan perintah."
"Apa maksud kalian? Aku tak mengerti!"
"Kami harus mengangkut benda-benda yang ada di dalam rumah Anda."
"Apa?! Bagaimana bisa kalian melakukan ini?!"
"Ini, silahkan di baca. Kami harus pergi, permisi."

Aku memegang selembar surat. Aku membacanya. Kami harus meninggalkan rumah ini dan mereka hanya memberi waktu 4 hari. Aku menyerahkan surat itu kepada Ibu agar ia bisa membacanya.

Matanya dipenuhi air mata. Ia mengambil surat itu dan membacanya. Sesaat kemudian matanya terbelalak. Ia menatapku tidak percaya. Aku memeluknya. Ia kembali menangis di pelukanku. Aku pun ikut menangis. Aku tidak menyangka semua ini akan menimpa kami. Sekuat apa pun aku memeluk Ibu, aku tetap tidak merasakan apa-apa. Kehangatan maupun ketenangan. Hanya pelukan biasa.

"Ibu, apa yang harus kita lakukan?" tanyaku pada Ibu sambil menahan tangis.

Tiba-tiba Ibu melepaskan pelukannya dan mendorongku agar aku menjauh darinya.

"Apa yang harus kita lakukan?! Hahahaha... Terserah apa yang akan kau lakukan. Aku tidak peduli denganmu!"
"A-apa maksud Ibu?"
"Jangan panggil aku Ibu, karena aku bukan Ibumu!"
"I-ibu..."
"Sudah kukatakan! Jangan panggil aku Ibu!"

Lalu Ibu berlari menaiki anak tangga. Kurasa ia menuju kamarnya. Apa yang akan ia lakukan? Aku masih belum bisa percaya apa yang di katakan Ibu tadi. Aku mengejarnya, kakiku terasa berat. Aku melihat Ibu memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Oh tidak! Apa yang sedang ia pikirkan? Apakah ia akan meninggalkanku seperti Abram, Ayah, dan Erlan? Tidak! Aku tidak bisa! Aku harus menghentikannya.

Aku memegang tangannya, namun ia menghempas tanganku.

"Ibu, kumohon hentikan. Jangan tinggalkan aku." aku memohon padanya.
"Diam kau! Aku ingin pergi dari sini! aku tidak ingin hidup menderita!"
"Tidak Bu, kita tidak akan menderita. Semua ini akan baik-baik saja."
"Aku tidak peduli apa yang kau katakan! Dan aku tidak menyayangimu, jadi jangan berharap aku akan bersamamu melewati semua ini!"
"Ibu... Aku mohon..."

Tidak! Tidak akan kubiarkan ia pergi! Ibu menuruni anak tangga, aku mengikutinya. Ketika ia akan keluar aku meraih tangannya. Dan lagi-lagi ia ingin menghempas tanganku, namun kali ini ia tidak berhasil. Aku memegang erat pergelangan tangan kirinya. Wajahnya sekarang menakutkan, tapi aku akan terus bertahan.

"Ibu, jangan meninggalkanku. Tidak apa jika kau tidak menyayangiku, tapi aku mohon teruslah bersamaku. Aku membutuhkanmu. Hanyalah kau yang kumiliki saat ini."
"Diamlah! Apa kau masih tidak mengerti?! Kau tahu? Aku masih cukup muda untuk bisa mendapatkan seorang suami yang baru. Jika aku tetap bertahan di sini, apa yang akan ku dapatkan nanti? Bukankah restoran ayahmu sudah bangkrut? Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku harus menunggu sampai kehidupan kita akan seperti dulu? Hahaha... Jangan mengkhayal! Kau tahu kan itu bukanlah hal yang mudah! Dan aku tidak mau membuang waktuku untuk itu!"
"Ibu, karena aku tahu itu adalah hal yang sulit, makanya aku ingin kau bersamaku agar aku bisa menjadikan ini lebih mudah. Aku berjanji kehidupan kita akan seperti dulu."
"Omong kosong! Dulu ayahmu juga berjanji padaku bahwa aku akan hidup dengan nyaman selamanya, tapi kenyataannya apa? Dia meninggalkanku! Kau tahu betapa aku mencintai ayahmu? Tapi ia meninggalkanku! Jadi untuk apa aku terus bersama anaknya yang tidak berguna sepertimu?! Apa yang bisa kau lakukan he?!"

Tanganku sudah tidak kuat lagi untuk menahan Ibuku. Aku melepakan tanganku. Ibu berlalu meninggalkanku. Ia tidak menoleh sedikitpun padaku. Aku tidak menyangka ia akan setega ini padaku. Kakiku lemas. Aku terjatuh. Benar kata Ibu... Apa yang bisa aku lakukan sekarang?
*****

To Be Continued . . .


Umi Yanti
8 Januari 2012
Read the rest ^,^

Sabtu, 07 Januari 2012

Saat Aku Terbangun Dari Tidurku : VI

Aku perlahan mendekatinya dan berharap bisa mengejutkannya. Tapi tidak seperti dugaanku...
"Erlan!" tubuh gadis itu tiba-tiba berbalik dan mengagetkanku.
"Vi-vily!" jawabku terbata-bata. "Jadi apa yang ingin kau katakan? Apakah itu sangat penting?"
"Tentu saja! Mana mungkin tidak penting! Bukankah SMS-ku tadi menunjukkan bahwa ada hal penting?!"
"Namun, kau selalu seperti itu kan jika ingin bertemu denganku."
"Kau ini!"
"Hahaha..."

Wajah manisnya itu sekarang berubah ekspresi. Ia cemberut oleh candaku. Aku penasaran dan ingin segera tahu kejutan apa lagi yang akan dia berikan. Aku menganggap semua yang ia lakukan adalah sebuah kejutan, karena ia sering melakukan hal-hal yang tidak terduga.

Aku terus memperhatikan gerak-geriknya. Aku terus menunggu. Ia kemudian duduk di kursi yang ada di pinggir lapangan basket. Membeku dan tersenyum. Matanya mengarah padaku dan memberikan isyarat agar aku duduk di sampingnya.
*****

Matanya menatap heran. Aku membiarkan itu berlarut sedikit lama. Aku sedang menyiapkan mentalku.
"Erlan, apakah aku boleh mengatakan sesuatu padamu?" tanyaku memulai pembicaraan.
"Tentu. Apa itu?"
"Sudah beberapa bulan ini kita selalu tertawa, bercanda, bergembira, bahkan bersedih pun sudah kita alami bersama. Semua hal itu membuat kita menjadi dekat. Persahabatan kita ini tentu menimbulkan perasaan sayang satu sama lain. Bisakah kau melanjutkan kata-kataku?"

Keadaan hening sebentar. Belum ada kata-katapun yang keluar dari mulutnya. Bibir Erlan mulai terbuka.

"Persahabatan kita memang masih belum terlalu lama, bisa di hitung dengan jari. Namun aku merasa kita sudah saling mengenal dengan sangat baik. Aku selalu merasa nyaman ketika bersamamu, tentunya kau juga merasakan hal yang sama kan? Lalu?"
"Lalu, bolehkah aku mengubah persahabatan kita ini? Karena sekarang perasaanku juga telah berubah."
"Maksudmu?"
"Erlan, kau tahu apa maksudku. Aku menyukaimu. Sejak lama. Bahkan sebelum kita dekat.... Aku menyukaimu Erlan!"
"Vily?"
"Ya, aku tahu tak seharusnya aku seperti ini. Tapi bukan salahku jika aku menyukaimu... Aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Kau juga tahu, aku sangat sulit melupakan Abram ketika ia meninggalkanku ke New Jersey. Namun kau tiba-tiba datang menggantikan Abram yang pergi. Erlan, maukah kau memberikanku sebuah kesempatan?"
"Kesempatan? Tidak Vily. Aku tidak bisa..."

Kami saling menundukkan kepala. Aku tidak berani menatapnya. Aku mengarahkan mataku ke lapangan basket yang ada di depan hadapanku. Aku merasa harapanku pupus. Aku mencoba bertahan.

"Mengapa kau tidak bisa memberiku kesempatan?"
"Aku bukanlah anak kandung orang tuaku. Mereka mengadopsiku ketika aku berumur 4 tahun. Mereka sangat baik padaku. Aku menyayangi mereka dan berhutang budi. Jika bukan karena mereka, aku tidak mungkin bisa hidup bahagia dan berkecukupan seperti ini, dan mungkin sekarang aku telah menjadi gelandangan. Oleh karena itu, ketika Ayah ingin menjodohkanku dengan putri temannya, aku langsung menyetujuinya. Mana mungkin aku tega mengecewakan mereka. Aku akan melakukan apa pun yang mereka inginkan."

Aku terkejut dengan jawaban yang tidak kuduga. Dadaku terasa sesak. Aku menggenggam erat kalung pemberian Abram. Perasaan ini terasa lebih sakit. Melebihi rasa sakit ketika Abram meninggalkanku. Aku tahu, sudah saatnya aku melepaskan kesedihanku, aku tidak bisa menahan air mata ini lebih lama lagi.

"Vily, maafkan aku."

Aku tidak bisa menjawab Abram. Lidahku terasa berat. Aku tidak sanggup mengeluarkan kata-kata apa pun. Abram memelukku. Posisi tubuhku tidak berubah sedikit pun, aku masih memegang erat kalung pemberian Abram dengan kedua tanganku.

Untuk kedua kalinya aku di tolak 2 pria yang kusukai. Pria yang sangat dekat denganku. Mereka yang kuanggap memiliki perasaan lebih terhadapku, namun aku salah. Tapi entah mengapa, aku merasa ada sesuatu yang tersembunyi. Aku tak tahu apa itu. Aku hanya merasa mereka sedang membohongi perasaan mereka sendiri. Entahlah! Aku benar-benar tidak ingin berharap lebih, mengutarakan perasaanku yang sebenarnya pada mereka sudah lebih dari cukup. Apakah Erlan akan meninggalkanku? Sama seperti Abram yang meninggalkanku...

Titik-titik air yang turun dari langit mulai berjatuhan. Mengaburkan air mataku. Kami berpelukan di bawah guyuran hujan. Entah berapa lama kami seperti itu. Kami hanya diam. Meskipun hujan sangat deras, aku merasa pelukan Erlan menghangatkan tubuhku.
*****

To Be Continued . . .


Umi Yanti
7 Januari 2012
Read the rest ^,^

Selasa, 27 Desember 2011

Saat Aku Terbangun Dari Tidurku : V

“Ibu bagaimana keadaan Ayah?!”
Ibu tidak menjawab. Dia terus menangis tidak memperdulikan pertanyaanku. Dan aku tahu arti tangisan itu. Aku memeluk Ibu.

Beberapa hari berlalu...
“Vily, ayo kita ke makam Ayah.” ajak ibuku dengan wajah yang masih kusut.
“Baik, Bu.”

Aku masih belum bisa percaya bahwa Ayah telah meninggalkan kami. Aku sangat merindukannya. Ayah meninggal karena terkena serangan jantung. Saat itu keadaan restoran memburuk dan terancam bangkrut. Sepeninggal Ayah untunglah para karyawannya berhasil mengatasinya.

Lalu aku teringat Ibu kandungku. Bagaimana wajahnya? Apakah ia menjagaku dari sana?
Juga Abram. Bagaimana keadaannya sekarang? Aku amat merindukannya. Sejak dia pindah ke New Jersey kami tidak pernah saling berhubungan lagi, kami kehilangan kontak.

Oh Tuhan, dan sekarang Ayah. Seandainya Abram masih ada di sini, mungkin aku bisa melewati semua ini dengan lebih mudah, tapi tidak mungkin. Aku tidak bisa berangan-angan, karena kenyataan yang ada di depanku berbanding terbalik dengan khayalanku. Tapi setidaknya masih ada Ibu, meskipun dia Ibu tiriku namun sekarang hanya dialah yang kumilki.
*****

Aku sedang terburu-buru. Kuliahku akan segera dimulai, dan sepertinya aku akan terlambat. Anak tangga itu seakan sulit kunaiki. Mungkin karena aku telah kelelahan berlarian dari gerbang tadi. Tapi aku harus semangat!
Bruk!!!

Oh tidak, buku-bukuku! Siapa yang menabrakku?
“Hei kau! Lihat bukuku, berantakan semua!” bentakku padanya.
“Iya aku tahu. Makanya sekarang aku sedang merapikannya. Apa kau tidak melihat?!”
“Hu-uh! Kau ini...” kata-kataku terputus.
"Ini, maafkan aku."

Untuk sejenak aku merasa waktu seakan-akan berhenti berputar. Mataku tidak berkedip menatap pria tegap berambut coklat yang ada di depanku. Jantungku berpacu lebih cepat dari biasanya.

"Apa kau baik-baik saja?"
"I-iya. Terima kasih." aku tersenyum kecil.

Pria itu bergegas meninggalkanku, tapi aku segera menghentikan langkahnya.

"Hei tunggu!" aku menghampirinya. "Siapa namamu?"
"Oh, aku Erlan. Dan kau?"
"Vily."

Aku pun langsung meninggalkannya. Entah mengapa ketika ia meninggalkanku tadi aku merasa seperti terhipnotis dan berlari mengejarnya. Lalu ketika aku telah mengetahui namanya aku merasa seperti telah mendapatkan kesadaranku kembali.

Hari berikutnya aku beruntung. Aku tiba lebih awal. Tentunya keadaan kampus masih cukup sepi. Aku duduk di kursi yang ada dipinggir lapangan basket. Aku mengeluarkan sebuah ipod kuning dari tas putihku. Aku memilih lagu dan mendengarkannya dengan tenang.

Ketika aku menoleh ke sebelah kanan aku terkejut. Sejak kapan makhluk ini berada di sampingku? Aku tidak merasakan kehadirannya. Ya, sama halnya saat aku tidak merasakan bahwa kehadirannya telah membuat hatiku terasa aneh. Apa dia bisa mendengar jantungku yang terus berdegup keras?

Aku ingin tersenyum padanya tetapi ku lihat ia telah berdiri dan bersiap-siap untuk pergi dari sini. Ah, mungkin lain kali saja aku menyapanya.

Aku terus memperhatikan gerak langkahnya. Namun ia tiba-tiba berhenti dan membalikkan badannya.

"Hmmm... sepertinya jantungmu berdegup cukup keras ketika berdekatan denganku."

Kemudian ia berlalu meninggalkanku yang tersipu malu menahan senyum.
*****

Jika aku hidup di sebuah dongeng, meski aku kerap menderita tapi aku tahu bahwa pada akhirnya aku akan bahagia. Pasti. Dan selalu seperti itu.

Neeett!
New Message :
Erlan, aku ingin bertemu denganmu. Segera!
From : Vily

Neeett!
New Message :
Oke. Dimana?
From : Erlan

Neeett!
New Message :
Di lapangan basket. Aku tunggu.
From : Vily

Neeett!
New Message :
Baiklah, aku akan segera ke sana.
From : Erlan

Pesan dari Vily tadi memaksaku untuk pergi dari tempat favoritku, perpustakaan. Seperti biasa keadaan seakan-akan menjadi genting ketika ia ingin bertemu denganku.

Sosok gadis berambut hitam panjang yang memakai rok putih itu pasti Vily. Ia selalu terlihat cemas dan gugup jika sedang menungguku dan aku menyukai itu.

To Be Continued . . .


Umi Yanti
28 Desember 2011
Read the rest ^,^

Senin, 26 Desember 2011

Saat Aku Terbangun Dari Tidurku : IV

“Abram? Lalu bagaimana dengan perasaanku?”
“Vily, kau tahu kan, rasa sayangku padamu berupa rasa sayang seorang kakak ke adiknya. Aku sangat menghargai perasaanmu, namun hubungan kita tidak bisa lebih.”
“Ya, aku mengerti. Aku harap hubungan kita tidak terganggu setelah kejadian ini.”
“Tentu saja.”

Apa arti dari senyumnya itu? Apakah ia kasihan padaku? Atau dia sedang mencoba menghiburku dengan senyumnya itu? Atau itu akan menjadi senyum terakhirnya untukku? Aku harap ini hanyalah mimpi, dan saat aku terbangun dari tidurku semuanya akan baik-baik saja.

“Ayo kita pulang.”
Kata-kata Abram membuatku tersadar bahwa ini bukanlah mimpi.
*****

Neeett!
New Message :
Vily, hari ini aku akan kembali ke New Jersey untuk melanjutkan S2. Jaga kesehatanmu karena di saat aku kembali ke Indonesia aku ingin melihatmu tersenyum. Maafkan aku. Aku harap kau membiarkanku pergi. Aku tak ingin melihat kau menangis, jadi aku mohon tersenyumlah.
From : Abram

Abram akan pergi? New Jersey? Tidak! Abram tidak boleh pergi! Aku harus mencegahnya!

“Ibu! Ibu!”
“Ada apa Vily? Kenapa kau teriak-teriak?”
“Aku mau pergi. Jika ayah mencariku, katakan aku sedang mengantar temanku di bandara.”
“Iya, hati- hati ya.”

Aku harus cepat. Aku tak ingin kehilangannya. Abram, tega sekali kau meninggalkanku. Padahal kau tahu perasaanku padamu, seharusnya kau bisa memberiku kesempatan untuk bersamamu lebih lama. Air mataku tertahan di pelupuk mata, aku tidak boleh menangis, karena semua ini akan baik-baik saja.

Sesampainya di bandara aku segera berlari. Semoga Abram masih di sini. Dia tidak boleh pergi sebelum aku bertemu dengannya untuk terakhir kali. Abram kau ada dimana?

"Abram!"

Aku terlambat. Seharusnya aku tahu bahwa senyumnya di pantai waktu itu adalah senyumnya yang terakhir. Sekarang aku tak bisa melihat senyumnya lagi. Aku tak boleh menangis, Abram ingin aku tersenyum. Sampai jumpa lagi Abram.

“Paman, aku pergi. Terimakasih untuk setahun ini. Jaga kesehatanmu.”
“Kau juga. Terimakasih juga karena kau telah menemani paman selama setahun ini. Pastikan ketika pulang ke Indonesia nanti kau harus bersama orang tuamu.” pesan paman.
“Aku sayang padamu Paman.” aku memeluk paman.
“Paman juga menyayangimu, Abram.”
*****

3 bulan setelah kepergian Abram aku masih merasa belum bisa melepaskannya dari pikiranku. Tapi tak apa, Abram akan segera kembali. Aku hanya perlu menunggunya. Aku tidak bekerja lagi di Delicio, sesuai janji ayah sekarang aku telah kuliah. Aku merasa sedikit kesepian. Ayah sedang sangat sibuk karena ada masalah dengan restoran. Ibu juga ikut sibuk, sepertinya ia takut jika ayah akan bangkrut. Harusnya aku tahu itu sejak awal.

“Vily?”
“A-ayah?”
“Kenapa kau terkejut seperti itu?”
“Tidak apa-apa kok.” jawabku asal.
“Vily, ayah tahu kau sedang berbohong. Belakangan ini kau terlihat murung. Jika masalah restoran kau tak usah ambil pusing, karena ayah pasti akan bisa mengatasinya.” jawab ayah yakin.
“Bukan masalah itu Ayah. Vily...” aku sungkan melanjutkan kata-kataku.
“Ayo, ceritakan pada ayah.”
“Ayah, apakah Vily salah menyukainya? Apa Vily harus membuang rasa suka Vily terhadap Abram?”
“Tidak, kau tidak salah. Lupakan saja dia. Hidupmu masih panjang.” ayah memelukku.

Aku seharusnya mengikuti nasihat ayah, tapi tidak untuk sekarang. Aku perlu waktu. Aku ingin ke pantai.

Hanya 15 menit waktu yang kuperlukan untuk tiba di pantai. Aku masih ingat hari terakhirku bersama Abram di pantai ini. Aku merindukannya. Tiupan angin membuat aku merasa damai. Pantai yang selalu sepi ini membuatku nyaman tanpa adanya gangguan dari pengunjung lain. Setidaknya aku bisa benar-benar menyendiri di sini.

Handphone-ku tiba-tiba berbunyi.
“Halo? Apa? Ayah! Ayaaaaah!!!”

To Be Continued . . .


Umi Yanti
23 Desember 2011
Read the rest ^,^

Rabu, 21 Desember 2011

Saat Aku Terbangun Dari Tidurku : III

"Jadi kau adalah putri Pak Wijaya?"
"Tepatnya putri tunggalnya." balasnya sambil mengulurkan tangan.
Aku menjabat tangannya, "Sekali lagi aku minta maaf atas kejadian waktu itu."
"Tidak apa-apa, aku juga minta maaf."
"Ya."

Tak ku sangka kami akan bertemu lagi di sini, di negara yang berbeda dengan pertemuan sebelumnya. Mungkinkah pertemuan kami ini akan sesingkat seperti pertemuan dahulu? Handphone-ku berbunyi.

"Hallo?"
"Abram, apa kau sudah makan siang?"
"Ah baru saja, ada apa Paman? Apa Paman belum makan?"
"Sayang sekali. Kalau begitu maukah kau menemaniku?"
"Tentu saja!"
"Oke, kita ke Restoran Delicio bagaimana?" tawar Paman.
"Kebetulan sekali aku sedang berada di Delicio, restoran mitra bisnis baruku Paman."
"Baiklah Paman segera ke sana."

Sebetulnya aku merasa kasihan dengan Paman. Sejak 7 tahun yang lalu ia bercerai dengan istrinya dan mereka tidak memiliki anak. Sejak kecil aku sering bersama mereka, jadi sudah sewajarnya Paman menganggapku sebagai anaknya sendiri. Aku tahu, ketika aku kuliah di New Jersey Paman pasti sangat kesepian. Sebagai pria sukses dia memang memiliki banyak teman, namun kebahagiaan bersama keluarga sungguh terasa berbeda. Oleh karena itu aku memutuskan untuk tinggal di Indonesia selama 1 tahun ini.

20 menit berlalu, akhirnya Paman tiba di restoran Delicio. Usai makan kami pergi ke taman. Kami duduk di atas rumput hijau yang subur. Paman tiba-tiba tersenyum. Sepertinya ia sedang menikmati suasana ini. Aku ingin tahu apa yang ada di pikirannya.

"Ingat tidak ketika masih kecil kau selalu merengek pada Paman untuk pergi ke taman ini? Kau berkata bahwa kau menyukai taman ini dan kau bisa bermain bola dengan paman sepuasnya?"
"Iya, tentu saja Paman. Aku tidak akan melupakannya."

Kulihat mata Paman sedikit berkaca-kaca. Mungkin ia sedang berdoa agar kebersamaan ini tidak cepat hilang. Aku juga tidak ingin waktu berlalu dengan cepat, karena aku masih merindukan Paman.
*****

Sudah 11 bulan aku bekerja di restoran dan tak ku kira aku akan menikmati pekerjaan ini. Bekerja menjadi sekretaris Ayah tidak membosankan dan cukup menyenangkan. Aku mendapatkan berbagai pengalaman dan teman baru.

Aku dan Abram sangat dekat. Kami sering bersama, saat jam kerja maupun di luar jam kerja. Dan aku menaruh perasaan lebih padanya. Ternyata benar, kebersamaan itu bisa memunculkan rasa suka dan sayang. Aku menyukainya.

"Hei! Apa yang sedang kau lakukan?"
"Aduh! Kau mengagetkanku saja!"
"Dasar! Oh ya, ayo kita ke pantai!"
"Pantai? Ada apa? Tidak biasanya kau mengajakku ke pantai?" tanyaku curiga.
"Sudahlah! Ikut saja denganku." Abram memegang tanganku.

Di pantai tentu saja kami bermain air. Kami berlarian seperti anak kecil. Kami tertawa, bergembira, dan melakukan hal-hal yang kami inginkan. Aku mengambil ranting kecil. Lalu aku menulis nama Abram di tepi pantai. Aku sengaja menggunakan kesempatan ini untuk mengungkapkan perasaanku padanya.

Tapi mengapa ekspresi wajahnya seperti itu? Aku takut akan terjadi sesuatu yang tidak kuharapkan. Aku mulai gelisah.

"Apa maksudmu?" tanya Abram.
"A-aku suka padamu!" jawabku gugup.
"Vily?"

Ternyata apa yang tidak kuharapkan terjadi. Dari raut mukanya aku tahu apa artinya. Sudah sangat jelas. Hatiku terasa sakit.

"Vily, aku juga menyayangimu, tapi hanya sebatas teman. Aku harap kau bisa memahaminya."

To Be Continued . . .


Umi Yanti
21 Desember 2011
Read the rest ^,^

Senin, 19 Desember 2011

Saat Aku Terbangun Dari Tidurku : II

Hari pertama bekerja di restoran Ayah membuatku cukup senang dan gugup. Sebagai putri tunggal dari seorang pemilik restoran terkemuka di kota ini, aku tidak langsung mendapatkan jabatan yang tinggi. Aku harus memulai sebagai sekretaris Ayah. Meskipun aku telah lulus SMA, aku tidak diperbolehkan melanjutkan kuliah terlebih dahulu, melainkan aku diharuskan untuk bekerja di restoran Ayah.

“Vily, kau tahu kan mengapa Ayah meyuruhmu bekerja di restoran?” tanya ayah saat sarapan pagi.
“Tentu saja ayah. Aku akan melakukan apapun yang Ayah inginkan semampuku.”
“Setelah kau mendapatkan pengalaman yang cukup Ayah akan mengizinkanmu untuk kuliah.”
“Iya Vily. Ibu juga setuju dengan Ayahmu. Kau harus berusaha dan nikmati saja pekerjaan ini.” ucap Ibu sambil tersenyum.

Ibu yang telah menemani kami selama 5 tahun ini sebenarnya adalah Ibu tiriku. Namun tidak seperti dongeng yang sering kubaca sewaktu kecil, Ibu cukup sayang dan perhatian padaku, meskipun kami juga tidak terlalu dekat. Ibu selalu memberikan dukungan pada Ayahku dalam hal apapun. Usia mereka terpaut 6 tahun. Sedangkan Ibu kandungku sudah lama meninggal. Ia meninggal usai melahirkanku dan makamnya hilang akibat bencana alam. Tapi Ibu akan selalu ada di dalam hati kami.

Aku dan Ayah berangkat menuju restoran. Setibanya di sana Ayah langsung mempekenalkanku pada karyawan-karyawannya. Aku tak menyangka ternyata suasana restoran Ayah sangat mengagumkan. Aku memang sering bermain ke sini, tapi belum pernah merasakan perasaan seperti ini.

“Vily, apa jadwal kita hari ini?” Ayah membuyarkan lamunanku.
“Emm... Siang ini Ayah akan bertemu dengan Pak Abram, dan ia ingin kita menyediakan menu spesial dari restoran ini.” jawabku sambil membaca catatan.
“Lalu?”
“Tidak, hanya itu.” jawabku yakin. “Enak sekali jadi Ayah, pekerjaannya tidak terlalu berat.”
“Hahaha.... Tidak juga kok. Ayah kan pemilik restoran ini, jadi Ayah mempunyai karyawan-karyawan untuk mengurus segala sesuatu untuk restoran ini. Tugas ayah hanya mengontrol, mengawasi, dan menemui para investor dan mitra bisnis.”
“Owh....” aku mengangguk.
*****

Pukul 2:00 siang. Aku harus segera pergi. Pak Wijaya pasti sedang menungguku.

“Maaf aku terlambat.”
“Oh tidak apa-apa. Silahkan duduk.”
“Terima kasih.”
“Jadi Anda adalah Pak Abram? Kelihatannya Anda cukup muda.” ucap pria itu ramah.
“Ya aku baru saja menyelesaikan S1. Anda terlihat sehat, sepertinya pengaruh dari makanan di restoran ini.” godaku.
“Kau bisa saja. Oh iya, mari aku perkenalkan putriku.”

Pria itu menelepon putrinya dan memintanya membawa makanan pesananku. Hanya 3 menit kami menunggu. Aroma masakannya tercium dan membuat perutku keroncongan. Maklum aku sengaja belum makan siang demi mencicipi menu spesial dari restoran calon mitra bisnisku.

Wajah gadis ini terasa tidak asing dalam ingatanku. Benar! Gadis ini yang menabrakku di bandara 2 hari yang lalu. Aku betul-betul ingat wajahnya.

“Kau...” ucap kami bersamaan seperti waktu itu.
“Kalian saling mengenal?”
“Sepertinya aku bertemu dengan putri Anda di bandara.” jawabku sambil mengingat.
“Iya! Aku menabrakmu. Sekali lagi maafkan aku. Saat itu aku sedang liburan, aku lupa bahwa hari itu aku harus pulang ke Indonesia, karena takut terlambat aku jadi terburu-buru dan tidak sengaja menabrak Anda.” ujar gadis itu tidak canggung.
“Vily, ini Pak Abram, mitra bisnis baru kita. Pak Abram, ini Vily, putri tunggalku.” Pak Wijaya memperkenalkan kami.
*****

To Be Continued . . .


Umi Yanti
16 Desember 2011
Read the rest ^,^

Jumat, 16 Desember 2011

Saat Aku Terbangun Dari Tidurku : I

Aku menyesal tidak mengetahui beban yang dirasakannya selama ini. Seandainya aku tahu akan ku ringankan bebannya hingga ia tidak perlu menderita seperti ini.
*****

Aku mengenalnya sejak 4 tahun yang lalu di sebuah bandara internasional.

Pagi itu aku sedang terburu-buru karena pesawat akan segera take off. Karena sibuk memainkan handphone aku pun menabrak seorang gadis.

“Maaf!” ucap kami bersamaan sambil membungkukkan badan.
“Ah iya, apa kau baik-baik saja?” tanyaku padanya.
“Iya, maaf aku sedang terburu-buru.” gadis itu berlari meninggalkanku.

Aku melirik arloji, dan segera berlari berharap tidak ketinggalan pesawat. Sesampainya di dalam pesawat aku merasa lega. Aku duduk di kursi paling akhir. Perjalanan menuju Indonesia kulalui tanpa hambatan.

Selama 4 tahun aku tinggal di New Jersey. Aku kuliah di New Jersey, S1 jurusan business management. Ayahku tidak bisa pulang ke Indonesia karena ada urusan bisnis dan tentu saja Ibuku harus menemani ayah. Di Indonesia ini aku akan tinggal bersama paman, satu-satunya adik ayah. Sejujurnya aku merindukan paman, karena sebelum pindah ke New Jersey aku memang tinggal bersamanya.

Hari ini untuk pertama kalinya tidak ada yang menungguku di bandara. Aku maklum, paman pasti sedang sibuk. Sedangkan Ibu adalah anak tunggal sehingga ia tidak memiliki keluarga lain selain Ayah, aku, dan paman. Jadi di Indonesia aku memiliki seorang keluarga. Cuma satu orang.

Handphone-ku berdering.
“Hallo?”
“Hallo Abram, kau sudah tiba di Indonesia?” terdengar suara yang sangat aku rindukan.
“Ah paman, iya, baru saja.” jawabku semangat.
“Syukurlah! Maafkan paman tidak bisa menjemputmu. Kau datang saja ke kantor paman, nanti kita akan mengadakan pesta untuk menyambut kedatanganmu.” ajak paman dengan antusias.
“Baiklah. Aku rindu padamu paman.”
“Paman juga sangat merindukanmu.”

Aku menyetop sebuah taksi dan memasukkan beberapa koper yang kubawa. Taksi yang kunaiki melaju menuju kantor paman. Rencananya aku akan tinggal di Indonesia selama setahun untuk bekerja di kantor paman, lalu aku akan kembali ke New Jersey untuk melanjutkan S2.

Aku masih ingat betul jalanan kota ini, masih sama, belum ada perubahan. Aku memakai headphone dan memutar lagu beraliran beat. Setibanya di kantor paman ternyata paman telah menunggu kedatanganku di lobby. Aku memeluk paman. Lalu kami pulang ke rumah paman untuk merayakan kedatanganku. Aku merasa senang dapat melepaskan kerinduanku pada paman.

Sepanjang perjalanan kami terus mengobrol. Paman menanyakan kabar Ibu dan Ayah, kuliahku, dan juga rencanaku ke depan. Paman sedikit merasa kecewa karena aku akan kembali ke New Jersey lagi, tapi ia kemudian mengatakan :

“Yaa walaupun kau hanya setahun berada di Indonesia dan akan terasa sebentar tapi setidaknya itu lebih baik daripada tidak sama sekali.”

Aku hanya tersenyum. Nampaknya aku akan mengingat kata-kata pamanku itu.
*****
To Be Continued . . .


Umi Yanti
15 Desember 2011
Read the rest ^,^