Rabu, 21 Desember 2011

Saat Aku Terbangun Dari Tidurku : III

"Jadi kau adalah putri Pak Wijaya?"
"Tepatnya putri tunggalnya." balasnya sambil mengulurkan tangan.
Aku menjabat tangannya, "Sekali lagi aku minta maaf atas kejadian waktu itu."
"Tidak apa-apa, aku juga minta maaf."
"Ya."

Tak ku sangka kami akan bertemu lagi di sini, di negara yang berbeda dengan pertemuan sebelumnya. Mungkinkah pertemuan kami ini akan sesingkat seperti pertemuan dahulu? Handphone-ku berbunyi.

"Hallo?"
"Abram, apa kau sudah makan siang?"
"Ah baru saja, ada apa Paman? Apa Paman belum makan?"
"Sayang sekali. Kalau begitu maukah kau menemaniku?"
"Tentu saja!"
"Oke, kita ke Restoran Delicio bagaimana?" tawar Paman.
"Kebetulan sekali aku sedang berada di Delicio, restoran mitra bisnis baruku Paman."
"Baiklah Paman segera ke sana."

Sebetulnya aku merasa kasihan dengan Paman. Sejak 7 tahun yang lalu ia bercerai dengan istrinya dan mereka tidak memiliki anak. Sejak kecil aku sering bersama mereka, jadi sudah sewajarnya Paman menganggapku sebagai anaknya sendiri. Aku tahu, ketika aku kuliah di New Jersey Paman pasti sangat kesepian. Sebagai pria sukses dia memang memiliki banyak teman, namun kebahagiaan bersama keluarga sungguh terasa berbeda. Oleh karena itu aku memutuskan untuk tinggal di Indonesia selama 1 tahun ini.

20 menit berlalu, akhirnya Paman tiba di restoran Delicio. Usai makan kami pergi ke taman. Kami duduk di atas rumput hijau yang subur. Paman tiba-tiba tersenyum. Sepertinya ia sedang menikmati suasana ini. Aku ingin tahu apa yang ada di pikirannya.

"Ingat tidak ketika masih kecil kau selalu merengek pada Paman untuk pergi ke taman ini? Kau berkata bahwa kau menyukai taman ini dan kau bisa bermain bola dengan paman sepuasnya?"
"Iya, tentu saja Paman. Aku tidak akan melupakannya."

Kulihat mata Paman sedikit berkaca-kaca. Mungkin ia sedang berdoa agar kebersamaan ini tidak cepat hilang. Aku juga tidak ingin waktu berlalu dengan cepat, karena aku masih merindukan Paman.
*****

Sudah 11 bulan aku bekerja di restoran dan tak ku kira aku akan menikmati pekerjaan ini. Bekerja menjadi sekretaris Ayah tidak membosankan dan cukup menyenangkan. Aku mendapatkan berbagai pengalaman dan teman baru.

Aku dan Abram sangat dekat. Kami sering bersama, saat jam kerja maupun di luar jam kerja. Dan aku menaruh perasaan lebih padanya. Ternyata benar, kebersamaan itu bisa memunculkan rasa suka dan sayang. Aku menyukainya.

"Hei! Apa yang sedang kau lakukan?"
"Aduh! Kau mengagetkanku saja!"
"Dasar! Oh ya, ayo kita ke pantai!"
"Pantai? Ada apa? Tidak biasanya kau mengajakku ke pantai?" tanyaku curiga.
"Sudahlah! Ikut saja denganku." Abram memegang tanganku.

Di pantai tentu saja kami bermain air. Kami berlarian seperti anak kecil. Kami tertawa, bergembira, dan melakukan hal-hal yang kami inginkan. Aku mengambil ranting kecil. Lalu aku menulis nama Abram di tepi pantai. Aku sengaja menggunakan kesempatan ini untuk mengungkapkan perasaanku padanya.

Tapi mengapa ekspresi wajahnya seperti itu? Aku takut akan terjadi sesuatu yang tidak kuharapkan. Aku mulai gelisah.

"Apa maksudmu?" tanya Abram.
"A-aku suka padamu!" jawabku gugup.
"Vily?"

Ternyata apa yang tidak kuharapkan terjadi. Dari raut mukanya aku tahu apa artinya. Sudah sangat jelas. Hatiku terasa sakit.

"Vily, aku juga menyayangimu, tapi hanya sebatas teman. Aku harap kau bisa memahaminya."

To Be Continued . . .


Umi Yanti
21 Desember 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar