Tampilkan postingan dengan label Kami dan Dirinya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kami dan Dirinya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Oktober 2011

Kami dan Dirinya : Ending

Dadaku terasa sesak. Nafasku tak beraturan. Bagaimana dengan rasa sukaku pada Tomy? Sementara di sisi lain sahabatku sangat tidak menyukai Tomy... Apa yang harus kulakukan?

"Tomy pasti sudah kembali ke Indonesia. Kemarin ketika aku berkunjung ke makam Putri aku melihat setangkai mawar putih di sana." cerita Putri dengan nada yang sedikit tenang.
"Putri, apa kau membenci Tomy?" tanyaku perlahan sambil terus memperhatikan ekspresi Putri.

Aku takut Putri akan marah denganku karena aku menanyakan ini.

"Benci?" tanya Putri sambil tersenyum kecil.
"Tidak, aku tidak membencinya."

Aku tak menyangka jawaban itu yang akan ia keluarkan. Bagaimana bisa? Bukankah ia seharusnya membenci Tomy?

"Lalu?"
"Aku hanya merasa kesal dengan sikap Tomy. Aku marah karena ia meninggalkan adikku. Namun aku berfikir jika aku terus membenci Tomy, pria yang amat dicintai adikku, mungkin di alam sana adikku akan sedih dengan sikapku." jelas Putri.
"Jadi kau sudah memaafkannya?"
"Tentu saja. Aku hanya merasa sedih ketika mendengar nama Tomy, karena nama itu akan mengingatkanku dengan Tania." ucap Putri lirih.

Aku memeluk Putri. Aku bangga dengannya. Sesaat itu juga air mata Putri tumpah lagi.

"Aku bangga padamu, Putri." aku tersenyum hangat.

Putri mencoba tersenyum. Aku melihat Tomy di balik pohon besar. Tampaknya ia sudah lama berada di sana.
*****

Pagi ini terasa lebih cerah, secerah hatiku selama seminggu ini. Teleponku berdering.

"Halo?"
"Din, kita jogging yuk!" ajak seseorang dari ujung telepon itu.
"Wah, kebetulan hari ini suasana hatiku sedang bagus. Kita bertemu di taman ya." ajakku padanya.

Aku mencari kaos putih dan celana training hitam favoritku. Lalu mengenakan sepatu putih hadiah dari Putri tiga tahun yang lalu. Aku menyenandung lagu My Love dari Westlife ketika melangkah keluar rumah.

And all my love
I'm holding on forever
Reaching for the love that seem so far
So I say a little prayer
And hope my dream will take me there
Where the skies are blue
To see you once again my love ...


Aku hampir tiba di taman dan mulai berlari kecil. Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku.

"Sepertinya benar-benar semangat joggingnya." sapa Tomy padaku.

Aku tersenyum. Kami melanjutkan jogging yang sempat terhenti.

"Apa kau tahu dimana Putri sekarang?" tanya Tomy.
"Bukankah dia sedang berada di kampus?"
"Kau salah. Lihat itu!" Tomy menunjuk ke arah kolam.

Ternyata Putri sedang bermain bersama anak-anak disana. Ia terlihat sangat ceria. Aku pun ikut bahagia. Tomy menggenggam tanganku erat dan mengajakku melanjutkan olahraga pagi kami. Meskipun kami bukan sepasang kekasih tapi aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuk Tomy. Aku akan berusaha membuatnya selalu ceria. Dan aku juga akan berusaha terus membuat Putri bahagia. Aku yakin suatu hari nanti aku akan bisa mandapatkan cinta Tomy.

But if I let you go
I will never know
What's my life would be
Holding you close to me
Will I ever see
You smiling back at me
How will I know
If I let you go


Seperti lagu itu, aku tidak akan melepaskan Tomy sebelum aku berhasil mendapatkannya!

~ The End ~
Umi Yanti
15 Oktober 2011
Read the rest ^,^

Kami dan Dirinya : II

Sepanjang perjalanan aku terus merenung. Membayangkan ekspresi apa yang akan ditunjukkan Putri padaku. Aku jadi gugup. Aku berusaha menetralkan perasaan dan raut wajahku. Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Mencoba menikmati pemandangan yang kulalui. Rambutku terus berkibaran terkena tiupan angin yang cukup kencang.

Akhirnya aku pun tiba di sebuah taman kecil yang berada di tengah kota, taman yang kujadikan sebagai tempat pertemuan kami. Aku melirikkan mataku berusaha untuk menemukan sosok yang kucari. Tiba-tiba aku mendengar suara lembut. Aku pun membalikkan badanku.

"Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Putri penasaran.
Aku mengangguk pelan. Aku ajak dia duduk di sebuah kursi.
Aku mulai berbicara.
"Apa kau mengenal Tomy?" tanyaku padanya.
*****
Wajah Putri masih datar. Putri menarik nafas lalu menghembuskannya. Sekarang ia terlihat sedih. Seolah-olah sedang mengingat kembali kejadian yang telah berlalu. Matanya berkaca-kaca. Ia mencoba menahan air matanya yang hampir tumpah.

"A-a-pa kau ma-sih mengingat Ta-nia?" tanyanya terbata-bata.
"Apa maksudmu?"
"Apa kau masih mengingat Tania?! Apa kau masih mengingat adikku? Tania, satu-satunya adik yang kumiliki?!" air mata Putri berjatuhan.

Aku mencoba menenangkan Putri dan berharap ia melanjutkan ceritanya.
"Aku sangat merindukannya." ucap Putri sambil terisak.

Aku mencari tissue yang ada di dalam tasku. Aku mengelap pipi Putri yang telah basah oleh air mata. Aku tahu saat ini Putri sangat sedih. Aku teringat peristiwa tiga tahun yang lalu. Hari terakhir aku melihat Tania. Selesai kuliah aku dan Putri beristirahat di rumah Putri. Namun setibanya di rumah Putri, kami melihat Tania telah terbujur kaku dengan luka di pergelangan tangannya. Pemandangan yang tidak akan pernah terhapus dari memoriku. Bunuh diri yang dilakukan Tania dengan meninggalkan sepucuk surat disampingnya. Sampai sekarang Putri masih menyimpan kenangan terakhir dari adiknya itu.

Putri mulai melanjutkan kata-katanya.
"Tania bunuh diri karena seorang pria. Ia ditinggal pergi keluar negeri oleh pria itu. Bahkan ketika Tania dimakamkan aku tidak melihat sebuah penyesalan dari pria itu. Apakah dia tidak merasa bersalah atas kematian adikku?! Pria itu adalah Tomy!!!" Putri semakin emosi.

Aku terkejut. Mataku terbelalak. Tidak mungkin! Apakah pria itu adalah Tomy yang aku temui kemarin? Aku merasa belum percaya apa yang kudengar.

"Kau yakin?"
"Tentu saja! Aku tidak akan pernah lupa dengan pria itu!" Putri menggenggam kedua tangannya.

To Be Continued . . .

Umi Yanti
15 Oktober 2011
Read the rest ^,^

Kamis, 13 Oktober 2011

Kami dan Dirinya : I

Aku dan sahabatku sedang berada di sebuah toko buku. Toko favoritku. Toko yang berisi puluhan bahkan ratusan komik-komik yang menarik. Aku sedang memilih komik yang akan kubeli.

"Aduh! Lama sekali milihnya, aku sudah lapar." Putri merengek padaku.
"Tunggu sebentar, aku masih sedikit bingung." jawabku dengan tenang.

Akhirnya mataku tertuju pada sebuah komik yang ada di sudut rak itu. Ya! Itu adalah komik yang kucari. Sepertinya cerita ini sangat menarik. Aku pun memutuskan untuk membeli komik itu dan segera pergi ke sebuah restoran bersama Putri, sahabatku.

"Aku pesan jus apel dan nasi goreng spesial ya. Aku mau ke toilet dulu." kataku pada Putri sebelum meninggalkannya sendirian di meja no. 4 itu.

Setelah keluar dari toilet aku pun merapikan rambutku yang sedikit berantakan. Tiba-tiba, bruk!
"Aw!" kakiku tersandung sebuah meja kecil.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya seseorang padaku sambil menahan tubuhku yang hampir jatuh.
"Aku tidak apa-apa, terima kasih." ucapku padanya. Aku menatap matanya. Mata sipit dan berwarna coklat. Tubuhku terasa kaku. Aku menyukai dia, batinku.

"Lain kali kau harus lebih hati-hati."
"Siapa namamu?" pertanyaan itu terlontar begitu saja tanpa menghiraukan nasihatnya.
"Namaku Tomy. Namamu?"
"Dinda." aku tersenyum padanya.

Tomy pun menghilang dari pandanganku. Wajahku masih dihiasi dengan senyuman penuh arti ketika aku tiba di hadapan Putri. Putri menatapku heran.

"Hei! Ada apa dengan wajahmu itu?"
"Kau tahu? Aku bertemu dengan seorang lelaki keren dan tampan bernama Tomy!" jawabku penuh dengan semangat dan sedikit menjerit. Raut wajah Putri tiba-tiba berubah.

"Tomy? Benarkah?"
"Iya. Kau mengenalnya?" tanyaku penasaran. Namun Putri hanya diam dan melanjutkan makan siangnya. Aku pun juga memakan pesananku karena perutku sudah lapar sekali.

Di perjalanan pulang Putri terus murung. Apakah ada yang mengganggu pikiran Putri? Tapi biarkan saja, mungkin saat ini Putri sedang tidak ingin diganggu. Aku pun membuka plastik pembungkus komik yang kubeli tadi dan mulai kubaca. Taksi yang membawa kami terus melaju menembus keramaian jalanan.
*****

Sinar mentari menembus gorden biruku. Mataku mulai terbuka. Sesekali aku masih menguap dan menggeliatkan badanku. Wajah Tomy masih terbayang di pikiranku. Jantungku mulai berdegup kencang. Bibirku tersenyum. Tapi aku masih penasaran atas ekspresi Putri kemarin. Aku menelepon Putri dan mengajaknya bertemu.

To Be Continued . . .

Umi Yanti
13 Oktober 2011
Read the rest ^,^