Tampilkan postingan dengan label Segitiga yang Berubah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Segitiga yang Berubah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 September 2011

Segitiga yang Berubah : Ending

Arga yang tidak menyangka bahwa Lia akan menanyakan hal itu meminta Lia bersabar. Namun Lia sudah tidak tahan lagi. Lia memberikan Arga waktu, dalam tujuh hari Arga harus merenungkan perasaannya. Arga harus memilih antara Lia atau Manda. Arga menghela nafas. Bagaimana mungkin Lia meragukan perasaannya? Arga benar-benar menyukai Lia, seharusnya Lia yakin dengan perasaan Arga.

Dua hari kemudian Lia mencoba untuk menemui Arga. Tetapi pada saat itu Arga sedang bersama Manda. Lia melihat kebersamaan mereka akhirnya terbakar cemburu. Pada malam harinya, orang tua Lia mengatakan bahwa mereka akan segera pindah keluar kota. Lia bingung. Apa yang harus ia katakan pada Arga? Lia belum bertemu dengan Arga sejak mereka memutuskan untuk merenungkan perasaannya masing-masing.

Kepindahan Lia dan orang tuanya keluar kota di percepat. Lia terus berusaha untuk menemui Arga, namun selalu ada halangan. Lia berharap jika ia memang di takdirkan untuk bersama Arga, maka pertemukanlah mereka. Di hari kepindahannya Lia mengirimkan sebuah pesan untuk Arga supaya mereka bisa bertemu untuk yang terakhir kalinya. Lia ingin sekali mengatakan bahwa ia menyesal atas sikapnya dan betapa ia sangat mencintai Arga. Sialnya pada saat itu Arga sedang pergi bersama keluarganya dan meninggalkan handphone-nya di kamar tidur. Tentu saja Arga tidak tahu tentang pesan dari Lia. Lia terus menunggu kedatangan Arga, namun Arga tak kunjung muncul. Lia pulang dengan kekecewaan yang teramat dalam, ia tidak mengira Arga akan mengacuhkannya.

Ketika Lia sedang berkemas ia menjatuhkan handphone-nya. Karena terburu-buru Lia tidak menyadari hal itu. Lia pergi dengan kesedihan dan penyesalan. Lia akan meninggalkan kota ini, kota yang mempertemukan ia dan Arga. Bahkan Lia tidak sempat untuk mengucapkan kata perpisahan kepada Arga. Malam harinya Arga menyadari pesan dari Lia. Arga mencoba menghubungi handphone Lia, namun tak ada tanggapan. Arga pergi ke rumah Lia, namun rumah itu telah kosong.

Satu bulan berlalu. Penantian Manda terbalas. Kini Manda telah menjadi kekasih Arga. Kesabaran Manda membuahkan hasil yang sungguh manis untuknya. Berawal dari sikap Arga yang mengacuhkan dirinya dan berakhir dengan sikap Arga yang sangat takut kehilangan dirinya. Tertawa bersama Arga tidak pernah terlewatkan. Setiap hari menjadi hari yang sangat indah bagi Manda, begitupun Arga. Arga telah terlepas dari bayang-bayang Lia. Di kota lain, kota yang jauh dari Manda dan Arga, di sana ada Lia. Di kota itu Lia terus memikirkan Arga. Lia belum bisa melupakan dan menemukan pengganti Arga. Ingin rasanya Lia meneriakkan bahwa ia masih sangat mencintai Arga.

~ The End ~

Umi Yanti
15 September 2011
Read the rest ^,^

Rabu, 14 September 2011

Segitiga yang Berubah : I

Memang benar, teman bisa berubah jadi cinta...
Arga yang telah mengenal Lia selama empat bulan ini merasakan suatu getaran ketika bersama Lia, begitupun dengan Lia. Tetapi Arga dan Lia belum bisa menyatukan perasaan mereka karena Arga mengetahui bahwa Manda menyukai dirinya. Arga hanya tidak ingin membuat Manda tersakiti jika ia menjadi kekasih Lia. Sebenarnya Arga mengetahui perasaan Manda sejak tiga bulan yang lalu, namun Arga mencoba untuk mengacuhkan Manda. Tujuannya hanya satu, yaitu Arga tidak ingin memberikan harapan kosong pada Manda sebab Arga tidak memiliki perasaan apapun terhadap Manda.

Arga menjelaskan kondisi dan situasi mengapa ia dan Lia belum bisa menjadi sepasang kekasih, Lia pun menjadi jengkel. Dengan susah payah, Lia berusaha mengerti niat baik Arga. Arga sangat bangga dengan kebesaran hati dan pengertian Lia. Setiap harinya Arga selalu bersenda gurau dan tertawa bersama Lia. Manda yang melihat keakraban Arga dan Lia menjadi iri. Manda ingin sekali bergabung dengan mereka, namun ia tidak memiliki keberanian yang cukup untuk melakukan hal itu. Menatap mata Arga saja sudah membuat jantung Lia berdegup kencang, apalagi jika ingin mengobrol, Manda sungguh tidak memiliki nyali. Manda hanya bisa melihat keceriaan Arga dan Lia, baginya melihat Arga bahagia merupakan ketenangannya.

Lambat laun, hati seseorang akan luluh jua...
Arga ingin menjadi teman Manda dan mengenal Manda lebih jauh. Arga berpikir bahwa selama ini ia terlalu egois karena mengacuhkan dan menganggap Manda tidak ada hanya karena Manda menyukainya. Manda pun terlihat senang dengan perubahan sikap Arga. Meskipun Arga lebih dekat dengan Lia, Manda tidak merasa kecewa. Ia bersyukur akhirnya bisa menjadi teman Arga yang sebenarnya. Kadangkala Manda harus mengalah ketika Lia mengajak Arga untuk pergi ke kantin, padahal saat itu Arga sedang bersamanya. Arga yang sejak awal menyukai Lia, tentu saja segera pergi bersama Lia dan meninggalkan Manda.

Lia mulai merasa Arga sedikit menjauh darinya dan lebih sering memperhatikan Manda. Arga mengatakan bahwa ia bersikap seperti itu semata-mata untuk menjaga hati dan perasaan Manda. Arga hanya tidak ingin menyakiti Manda lebih dalam. Setidaknya ia harus membiarkan Manda bisa merasakan kebahagiaan bersama Arga meski hanya sebentar. Namun Lia malah beranggapan hati dan perasaan yang seharusnya Arga jaga adalah dirinya, bukan Manda. Secara tidak langsung Arga mencoba membuat Manda tidak tersakiti, namun di sisi lain hal itu membuat Lia tersakiti. Lia mulai meragukan keseriusan Arga. Lia menjadi resah.

Lia terus berpikir, apakah sebenarnya Arga lebih menyukai Manda? Itulah mengapa Arga memilih tidak berpacaran dengan dirinya dengan alasan tidak ingin menyakiti Manda. Mungkin saja Arga belum menyadari perasaannya yang sesungguhnya dan salah mengartikan perasaan itu. Lia terkejut dengan pikirannya sendiri. Kecemasan Lia terhadap sikap Arga bertambah. Haruskah ia berbicara dengan Arga mengenai perasaannya sekali lagi? Bagaimanapun Lia tidak ingin menjadi penghalang. Dulu Arga memang menyukainya, namun mungkin perasaan itu telah berubah. Iya, Lia harus berbicara dengan Arga.

To Be Continued . . .

Umi Yanti
14 September 2011
Read the rest ^,^