Bel sekolah berdentang, kelontang...
Gadis berseragam putih dan memakai rok abu-abu sedang duduk termangu di dalam kelasnya. Seperti sedang menunggu seseorang. Sedangkan teman-temannya yang lain sedang asyik bercanda dan bersenda gurau. Namun lamunannya tiba-tiba buyar.
"Woi Alan! Lama gak masuk sekolah! Pa kabar lo?" sapa Jo di depan pintu kelas.
"Baik bro, kaki gue udah bisa di ajak sekolah lagi nih."
"Jadi yang sekolah itu kaki elo ya?"
"Hahahah bisa aja!"
Cowok keren itu bernama Alan, salah satu cowok terpopuler di SMA Jaya. Sedangkan gadis manis yang terus memperhatikan tingkah Alan bernama Gia. Gia telah menaruh hati pada Alan sejak mereka menjadi teman sekelas. Dan Alan tahu tentang itu. Namun ia bersikap cuek dan sikapnya pun sulit di tebak. Oleh karena itu Gia menjadi sedikit berhati-hati dan cenderung membatasi dirinya dengan Alan. Walaupun di dalam hatinya yang paling dalam, Gia ingin sekali bisa berteman akrab dengan Alan.
"Gia! Ngapain sih lo masih peduliin dia? Dia itu gak pantes dapet perhatian dari lo!"
"Gak tau nih Del, gue masih berharap ama Alan."
"Lo harus nentuin sikap dong. Kalo lo emang suka sama dia, ya lo kejar. Tapi kalo elo-nya gak mau ngejar dia, ya mending lepasin aja deh dia." saran Della, teman sebangku Gia.
Gia hanya terdiam. Perkataan Della memang benar. Namun rasanya itu sangat sulit dan membingungkan bagi Gia. Jika Gia bisa memutar waktu, ia ingin sekali bisa bersikap lebih baik pada Alan. Alan sebenarnya tidak menjauhi Gia, tapi Gia sering merasa bahwa Alan agak menjaga jarak padanya, padahal sebenarnya tidak. Alan bersikap cukup normal, hanya saja Alan sering bersikap sedikit dingin pada Gia. Hal itu semata-mata agar Gia tidak merasa mendapatkan harapan kosong. Alan hanya menganggap Gia sebagai teman biasa.
Bel istirahat berdentang, kelontang...
Anak-anak SMA Jaya telah berkumpul di lapangan basket. Mereka akan menyaksikan pertandingan basket dari Alan dkk. Alan merupakan kapten tim basket SMA Jaya. Kemampuannya yang luar biasa dan didukung oleh penampilan yang keren membuatnya di tunggu-tunggu oleh anak-anak SMA Jaya, terutama para siswi.
"Untung aja nih kaki udah sembuh. Jadi gue bisa nunjukin kejagoan gue." Alan berkata dengan bangga.
"Jago, lo pikir ayam? hahaha... Ngomong-ngomong beneran tuh kaki udah sehat?"
"Iya lah. Kalo gak, mana mungkin gue ada di lapangan basket ini!"
"Bagus deh! Kalo gitu, yok kita mulai." ucap Jo dengan semangat.
Pertandingan pun di mulai. Kelas XI. IPA-2 melawan kelas XI. IPA-4.
20 menit berlalu. Kelas XI. IPA-2 memimpin, kelasnya Alan. Namun tiba-tiba Alan merasakan kakinya kaku. Wajahnya menunjukkan bahwa ada yang tidak beres dengan kaki kirinya.
Aduuh!
"Lan, lo kenapa?" tanya teman Alan di tengah pertandingan.
"Alan?!"
Pertandingan pun di hentikan. Anak-anak mulai cemas, takut terjadi apa-apa pada Alan. Jo memeriksa kondisi kaki Alan. Cowok bernomor 8 itu pun segera memegang kaki Alan.
"Ini terkilir. Kita gak bisa lanjutin permainan. Lebih baik kita anter Alan ke UKS." ucap Jo.
"Aw, sakit banget kaki gue." rintih Alan.
"Ayo, kita anter."
Gia yang melihat kejadian itu tentu saja langsung khawatir dan cemas. Ingin rasanya ia menolong Alan, tapi tidak mungkin. Padahal katanya di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, namun Gia tidak merasa seperti itu. Usai dari UKS, Alan segera izin untuk pulang ke rumah. Dan Alan pun melewatkan pelajaran Fisika.
Sepanjang pelajaran fisika konsentrasi Gia terpecah. Gia masih memikirkan kondisi Alan. Ia tau bahwa Alan baik-baik saja dan hanya mengalami terkilir biasa, namun entah mengapa hatinya tidak tenang. Pelajaran fisika berakhir, bel pulang berdentang, kelontang...
"Gia!" panggil Della.
Gia menoleh.
"Gi, kita ke toko buku yuk! Gue mau beli novel nih." ajak Della.
"Aduh, maaf banget Del. Gue gak bisa, gue mau langsung pulang."
"Oh, ya udah deh, gak papa. Gue duluan ya." jawab Della.
"Sorry, lain kali aja ya."
"Oke, gak masalah kok, daaag.."
Della pun menghilang dari penglihatan Gia.
'Oh ya, tadi kan ada tugas fisika', batin Gia. 'Aku harus kasih tau Alan. Kalo dia gak bikin tugas, ntar malah kena hukum.' Gia pun menyetop sebuah taksi dan melaju menuju rumahnya. Sesampainya di rumah Gia merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk berlapiskan sprei berwarna pink. Gia meraih handphone-nya. Membuka daftar kontak dan mencari nama Alan.
'Heem, sms gak ya?' Gia berpikir. 'Kalo sms, mau sms apa? Tapi kalo gak sms, kan kasian. Tugas ini kan dikumpulnya besok.' Setelah berargumen dengan pikirannya sendiri, akhirnya Gia memutuskan untuk mengirim sms kepada Alan.
Neeett!
:
Lan, besok lo sekolah kan? Ada tugas fisika halaman 156, besok harus di kumpul.
From : 085267xxxxxx
Neeett!
:
Iya, makasih banget. Tumben amat lo kasih tau gue.
From : Alan
Neeett!
:
Abisnya ini kan penting, kalo lo di hukum gimana?
From : 085267xxxxxx
Neeett!
:
Aduh perhatian banget lo sama gue. But thanks ya Jo.
From : Alan
Neeett!
:
Gue bukan Jo...
From : 085267xxxxxx
Neeett!
:
Oh. Jadi?
From : Alan
'Gue harus balas apa? Apakah gue harus berbohong? Bagaimana jika Alan tau bahwa itu gue?' Gia di dera kebimbangan. Gia merasa menjadi teman Alan saat mereka sms-an tadi, namun jika Alan tau bahwa itu adalah Gia mungkinkah perasaan seperti itu akan hilang?
Umi Yanti
4 Februari 2012
Read the rest ^,^
Sabtu, 04 Februari 2012
Bagaimana Jika Itu Aku?
Rabu, 22 Desember 2010
Katakan Doni
Mungkin hal ini tidak pernah terbayangkan oleh Doni. Pemuda tampan, kaya, cuek, dan memiliki banyak akal. Tapi itulah yang terjadi. Semuanya berawal saat ia masih semester 5 di suatu universitas terkemuka di Jakarta. Doni mempunyai kekasih yang sangat baik hati dan perhatian. Namun siapa sangka bahwa perhatian Rara dianggap Doni terlalu berlebihan dan terkadang membuatnya risih. Doni menganggap Rara berubah setelah mereka menjalani hubungan ini selama 3 tahun. Ya, mereka telah saling mengenal sejak kelas 1 SMA. Dulunya sangat sulit bagi Doni untuk bisa mendapatkan Rara. Namun setelah berjuang keras mereka pun bisa menjadi sepasang kekasih.
Doni mempunyai seorang sahabat yang juga merupakan teman dari Rara. Doni sering menceritakan keluh kesahnya terhadap Rara kepada sahabatnya itu, Putra, begitupun Rara. Mereka telah melewati banyak hal dan Putra merupakan saksi atas hubungan mereka. Doni hanya tinggal sendirian di rumahnya, karena orangtuanya memiliki bisnis di luar negeri, sehingga Rara-lah yang mengurusi segala sesuatu untuk Doni.
Doni semakin hari semakin merasa terganggu terhadap kelakuan Rara, yang sebenarnya demi kebaikan Doni. Ketika Doni sedang melihat buku di toko buku, ia bertemu dengan Navina, temannya sewaktu SMA dan sekaligus mantan pacarnya. Betapa terkejutnya Doni melihat perubahan penampilan Navina. Ia sekarang menjadi seorang model yang lumayan di perhitungkan. Doni pun mengatakan bahwa ia menyesal telah meninggalkan Navina dan berpaling dengan wanita lain. Navina hanya tertawa. Mereka pun mengobrol di sebuah restaurant dan sering bertemu sejak kejadian itu.
Rara yang merasa bahwa Doni sedikit berubah akhir-akhir ini akhirnya menanyakan kepada Doni, apa yang terjadi. Namun bukannya menjelaskan, doni malah berbohong kepada Rara. Ia mengatakan bahwa ia sedang di sibukkan dengan tugas kampus. Meski Rara merasa curiga, namun ia mencoba untuk percaya dengan Doni karena rasa cintanya yang begitu besar. Mereka pun pergi untuk makan malam.
Keesokan harinya Doni bertemu dengan Navina karena pertemuan yang di rencanakan. Doni mengatakan bahwa ia merasa bahwa rasa yang dulu ada terhadap Navina muncul lagi. Tanpa memikirkan perasaan Rara, Doni pun menyatakan cintanya pada Navina. Navina pun menerima Doni karena mereka sama-sama tidak memiliki pasangan, tanpa dia tahu bahwa telah ada Rara di belakang mereka.
Rara pun berlari sambil menangis yang kemudian di kejar oleh Putra. Sebenarnya Doni ingin mengejar Rara, namun ia harus menjelaskan semuanya kepada Navina. Perbuatan yang sangat konyol! Setelah Doni menjelaskan semuanya dengan perasaan menyesal dan sedih, Navina pun memutusakan untuk pergi dari kehidupan Doni dan Rara. Ia meninggalkan Doni dengan perasaan kecewa dan marah.
Putra yang telah berhasil menenangkan Rara akhirnya menyarankan Rara untuk bertemu dengan Doni agar masalah mereka selesai. Sambil mengatakan bahwa jika ia memiliki kekasih seperti Rara, maka ia tidak akan pernah membuat Rara kecewa dan sedih. Rara hanya diam dan terus menangis memikirkan perbuatan Doni. Untuk menenangkan pikiran, Rara tidak ingin bertemu dengan Doni untuk sementara waktu. Dan akhirnya mereka pun bertemu untuk membicarakan masalah itu.
Doni menjelaskan tentangnya dan Navina serta apa yang selama ini telah ia lakukan. Rara hanya bisa diam tak berucap sambil mengingat apa pengorbanannya kepada Doni. Rara telah berbaik hati selalu merawat Doni, meperhatikannya, mengurusinya, namun ternyata
Doni tega mengkhianati kesetiaannya. Rara meninggalkan Doni. Sedangkan Doni hanya sendirian dengan perasaan yang bercampur antara sedih, merasa bersalah, dan marah kepada dirinya sendiri yang telah menyakiti hati dua wanita yang ia cintai, terutama Rara, gadis yang mungkin tak ada duanya di hidupnya.
Beberapa minggu kemudian dengan besar hati Rara memaafkan kesalahan Doni. Mereka pun menjalani kehidupan sepeti biasanya. Namun yang berbeda hanyalah Doni yang sekarang lebih mengerti tentang apa makna pengertian yang sesungguhnya dan membiarkan orang yang dicintai bahagia meski tanpa dirinya. Ya… Rara sekarang telah bahagia bersama Putra, lelaki yang selama ini mendengarkan curhatnya dan bisa membuatnya merasa benar-benar dihargai oleh pasangannya. Mereka pun tetap menjadi tiga sahabat yang saling melengkapi.
Umi Yanti
22 Desember 2010
Read the rest ^,^