Minggu, 03 Agustus 2014

Mikirin Judul

Seperti di postingan sebelumnya, saat ini otak saya sedang dialiri oleh banyak ide. Alhamdulillah, akhirnya cerbung Bawalah Aku ke Hatimu udah ga To Be Continued alias udah The End alias Tamat alias Selesai! Wuaaah seneng banget rasanya ^^ Kalo ga percaya ayo silahkan di cek :p

Sekarang saya masih libur loooh! Inget, saya bukan anak SMA lagi, saya udah kuliah. Jadi jadwal masuknya sedikit berbeda dengan anak SMA, SMP, SD, apalagi TK hehe... Kuliahnya udah masuk semester 3 nih. Mohon doanya ya, supaya kuliahnya lancar :) #eh, kok malah ngomongin kuliah sih? Ga papa yaa. Amin-in aja, oke? :*

Karena masih libur dan ide banyak bermunculan, akhirnya saya memutuskan untuk membuat cerbung ke-7 (insya allah). Semalam alur cerita untuk cerbung yang baru ini udah ada dan fix. Eh, pagi tadi pas lagi mandi tiba-tiba kepikiran dengan alur ceritanya. Alhasil terjadi perombakan di sana-sini, sehingga jalan ceritanya sedikit berubah. Siangnya udah mulai nulis. Daaaan bagian pertama udah selesai, yeaaaah! Tapi belom diposting... Kenapa? Karena aku bingung mau kasih judul apa hohoho :3  Susah banget nentuin judulnya, dari tadi mikir tapi belom ketemu-ketemu juga huuuft!

Nah, sambil mikirin judulnya, saya pun memutuskan untuk buat postingan ini :D #apaansih
Oh ya, jadi cerbungnya itu menceritakan tentang cewek dan cowok yang merupakan tetangga bersebelahan rumah. Mereka itu terpaut usia 2 tahun dan ga pernah akur (kaya kucing dan anjing). Kemudian kedua orang tua mereka berniat untuk menjodohkan mereka berdua. Sudah bisa ditebak mereka pasti ga setuju dengan ide gila orang tuanya. Lambat laun cinta pun muncul di antara mereka berdua. Namun, di saat cinta mulai mewarnai hidup mereka, tiba-tiba salah satu orang tua dari mereka malah membatalkan perjodohan itu! Mau tau alasannya??? Mau tau kelanjutan hubungan mereka? Nanti aja yaaaa... Ikutin deh ceritanya ;)

By the way, judulnya masih belom ketemu nih :(
Uuuh apa yaaa??? Binguuuung!
Pokoknya kalo judulnya udah dapet, langsung saya post cerbungnya.
See you :3
Read the rest ^,^

Sabtu, 02 Agustus 2014

Bawalah Aku ke Hatimu : Ending

Awan berwarna kelabu. Langit terlihat mendung. Dedaunan bergoyang tertiup hembusan angin.
Audrey menatap dirinya di cermin. Berjalan keluar kamar. Mengunci pintu rumah. Menaiki taksi yang menuju bandara. "Tunggu aku di sana, aku akan segera tiba." ucap Audrey pada Isabel melalui handphonenya.

15 menit kemudian...

"Isabel..."
"Audrey..."
"Aku mohon, tinggallah di sini."
"Kau tahu, itu adalah keinginan terbesarku. Tinggal di Indonesia dan melihat pria yang telah kucintai selama beberapa tahun ini. Tapi, sungguh menyakitkan setiap kali aku melihat pria itu bersama wanita lain."
"Jangan pergi dan carilah pria lain. Seorang Isabel sungguh sempurna. Pasti banyak pria di luar sana yang mengharapkan cintanya."
"Kita hanyalah manusia biasa. Ketika kita ada masalah, kita akan dihadapkan pada 2 pilihan. Maju atau mundur. Dan saat ini aku memilih untuk mundur. Aku lelah. Aku juga ingin merasakan bahagia."

Audrey langsung memeluk Isabel. Cairan hangat di pelupuk matanya tumpah. Menangis dalam diam. Bersedih atas keputusan sahabatnya itu.

"Maafkan aku Isabel.."
"Sudahlah, jangan menangis. Mana mungkin aku berada di antara kalian. Menjadi seorang wanita dan sahabat. Mana mungkin aku bisa menjalani 2 peran sekaligus. Sangat menyakitkan."

Audrey melepaskan pelukannya. Menatap erat mata Isabel.

"Ketika rasa sakit itu hilang maka kembalilah. Aku akan menunggumu." Audrey tersenyum.
Isabel hanya mengangguk. Lalu Isabel melihat jam tangannya.

"Sudah waktunya, selamat tinggal Audrey."
"Aku akan merindukanmu."

Isabel berjalan meninggalkan Audrey.

Tiba-tiba Isabel berhenti melangkah. Menoleh ke arah Audrey. Dan terdiam. Memandang wajah seorang sahabat yang sekarang berjarak  5 meter darinya.

"Saat ini aku memang memilih mundur dan pergi. Namun, akan tiba saatnya aku kembali dan melangkah maju." kata Isabel di dalam hati.

Keduanya melemparkan senyum. Isabel berbalik dan kembali melangkah meninggalkan Audrey.
******

Tok! Tok! Tok!

"Iya, sebentar." ucap Ayu lalu membuka pintu.
"Selamat siang." pria tinggi berjambul itu tersenyum riang.
"Danar! Ayo masuk. Silahkan duduk. Kakak panggil Audrey dulu ya."

Beberapa menit kemudian Audrey muncul. Matanya membesar melihat sosok pria berkemeja biru muda yang sedang duduk di sofa. Sang pria pun berdiri. Ia menghampiri Audrey.

"Aku telah mengambil keputusan. Aku sudah memikirkannya selama 2 tahun sejak aku terbangun dari koma."
"Apa?" tanya Audrey.

Danar pun mengeluarkan kotak kecil dari saku celananya. Membuka kotak itu dan berkata, "Menikahlah denganku, Audrey."

Audrey menggigit bibir bawahnya sambil menahan senyum.
 Danar dan Audrey berpelukan. Audrey menghela napas panjang. Ia merasakan kelegaan.
Akhirnya semua ini berakhir. Penderitaan, kesedihan, tangisan akan sirna. Kebahagiaan akan segera menghampiri mereka.

"Tunggu dulu. Kamu belum menjawab pertanyaanku."
"Hahaha... Iya, Danar. Bawalah aku ke manapun kamu pergi. Bawalah aku ke hatimu."

Audrey mencubit pipi Danar. Danar pun mencium kening Audrey dalam dekapannya.

~ The End ~


Umi Yanti
2 Agustus 2014
Read the rest ^,^

Jumat, 01 Agustus 2014

Bawalah Aku ke Hatimu : IX

"Universitas Stanford?!" Audrey terperangah.
Audrey bingung. Merasa tak percaya dan khawatir. Ia tak mengedipkan matanya. Jantungnya berdegup tak beraturan. Ada sesuatu yang membuatnya sedih. Hatinya mulai kacau.

"Iya, Universitas Stanford. Haruskah kuulang untuk ketiga kalinya?" jawab Isabel tenang.

Audrey hanya diam. Menatap Isabel lalu beralih ke Danar. Masih diam.

"Bukankah itu kabar baik? Aku akan ke luar negeri. Berkumpul dengan orangtua dan kakakku. Tinggal bersama orang-orang yang menyayangiku, sangat menyayangiku." Isabel kembali bersuara.

Audrey dan Danar masih terdiam. Mata Danar kembali berkaca-kaca. Isabel memaksakan senyum pada keduanya. Kakinya mulai melangkah hendak meninggalkan mereka. Audrey meraih tangan kiri Isabel.

"Di sini juga ada orang yang menyayangimu. Sahabatmu..." ucap Audrey sambil menggenggam tangan Isabel dan menatap punggungnya penuh arti.

Isabel melepaskan genggaman Audrey dengan lembut dan masih membelakangi Audrey. Lalu ia pun kembali melangkah dan benar-benar keluar dari ruangan itu. Audrey dan Danar yang masih terkejut dengan ucapan Isabel hanya bisa diam terpaku melihat kepergian wanita yang memakai kemeja bunga-bunga berwarna putih-biru itu.
******

"Gak. Aku ga bakal melepaskan wanita yang sungguh mencintaiku."

Kevin mengambil jaket cokelatnya dan segera meluncurkan Chevrolet Camaro putih miliknya. Sesaat kemudian ia mencari nama Suzan di kontak handphonenya lalu menekan tombol hijau.

"Halo Suzan. Datanglah ke tempat kencan pertama kita. Aku menunggumu di sana. 10 menit lagi aku tiba."

Belum sempat Suzan menjawab, Kevin langsung mematikan panggilannya. Sorot mata Kevin sangat tajam. 'Tidak akan. Tidak akan. Tidak akan' batin Kevin.

Setibanya di tempat pertemuan...

"Maaf sudah membuatmu menunggu. Ayo!" ajak Kevin sambil memegang tangan kanan Suzan.

Kevin mulai mengantri dan melihat layar, matanya dengan jeli mencari film yang sesuai untuk mereka. Ya, sekarang mereka sedang berada di bioskop, tempat kencan pertama mereka. Setelah memilih film Kevin dan Suzan pun segera masuk ke Studio 3. Tidak ada kata yang keluar dari mulut Kevin maupun Suzan sejak masuk ke dalam studio hingga selama film diputar. Setelah filmnya selesai mereka masih diam. Kevin kembali memegang tangan Suzan dan mengajaknya pulang tanpa mengucapkan satu kata pun.

Di dalam mobil akhirnya Kevin memecah keheningan.

"Suzan, maafin aku. Sungguh aku sayang dan cinta sama kamu. Aku ga akan biarin kamu pergi. Aku ga mau kita jauh."
"Tapi, kemarin kamu bilang kalo kamu suka sama Audrey. Sekarang kamu bilang kamu cinta sama aku dan ga mau pisah sama aku?! Kamu pikir aku apa?" Suzan mulai emosi.
"Saat itu pikiranku sedang kacau. Aku hanya salah mengartikan perasaanku terhadap Audrey. Semua ini karena janjiku pada adik yang sangat kusayangi, Danar."

Aku sedang bermain gitar di dalam kamar. Kemudian telepon rumah berbunyi. Aku segera keluar dari kamar dan mengangkat telepon itu.
"Halo? Ya, saya Kevin, kakaknya Danar. Apa?! Danar kecelakaan?"

Aku segera pergi ke rumah sakit. Di perjalanan aku teringat pada Isabel. Wanita yang selama ini dekat dengan Danar bahkan aku pun kenal padanya. Aku segera meneleponnya dan mengabarkan apa yang telah terjadi. Setibanya di suatu ruangan di rumah sakit yang kulihat adalah Danar yang sedang terbaring kesakitan dengan berlumuran darah. Dadaku terasa sesak. Aku menghampirinya.

Ia pun berkata, "Kak, tolong jaga Audrey."
"Audrey? Siapa?"
"Dia pacar Danar. Tolong jaga Audrey.."

Danar pun pingsan. Aku keluar dari ruangan itu. Tidak lama kemudian dokter pun keluar dan mengatakan bahwa Danar koma. Lalu Isabel muncul dengan raut muka pucat. Kami masuk ke ruangan itu. Danar sedang tertidur dengan perban melingkari kepalanya. Isabel menangis sambil mencium tangan kanan Danar. Aku hanya bisa diam membisu dan membiarkan air mataku mengalir.

1 jam kemudian aku memutuskan pulang untuk mengambil pakaian Danar. Di kamar Danar aku baru teringat akan pesan Danar. Aku pun mengirimkan pesan kepada Audrey melalui handphone Danar. Aku benar-benar tidak sempat bertemu dan melihat wajah Audrey. Beberapa hari kemudian aku pun berhasil mendapatkan informasi tentang Audrey. Dan aku sangat terkejut, bagaimana bisa Audrey dan Isabel berteman baik? Apakah mereka tidak tahu bahwa di antara mereka ada cinta segitiga? Entahlah! Yang terpenting sekarang adalah aku harus menjaga Audrey seperti permintaan Danar.

"Lalu?" Suzan menunggu kata yang akan keluar dari mulut Kevin selanjutnya.
"Selama ini aku hanya terbawa suasana. Aku hanya ingin menjaga Audrey untuk Danar. Maafin aku karena aku begitu tega mengatakan semua itu kemarin. Maukah kau kembali padaku?" tanya Kevin
"Danar adalah orang baik. Kamu juga orang baik. Kemarin Audrey memiliki kamu sebagai pelindung dan penjaganya. Tapi sekarang, besok, dan selamanya aku yang memiliki kamu."

Kevin dan Suzan pun berpelukan. Suzan tersenyum bahagia, begitupun dengan Kevin. Kevin membelai rambut hitam Suzan.
******

To Be Continued . . .

Umi Yanti
1 Agustus 2014
Read the rest ^,^