Sabtu, 08 Oktober 2011

Di Surga

Takdir? Yaa... Jika dia ditakdirkan untukku, aku pasti akan selalu bersamanya.

Hari ini adalah hari pernikahanku. Hari yang sangat aku tunggu-tunggu. Aku akan hidup bersama pria yang sangat kucintai dan juga sangat mencintaiku. Aku sungguh bahagia. Rasanya hidupku sekarang telah lengkap. Oh Tuhan, aku mohon agar kebahagiaan ini selalu bersama kami, aku tak ingin kehilangannya.

"Apa kau sudah siap?" tanya calon suamiku.
"Tentu! bagaimana denganmu?" jawabku penuh semangat.
Ia hanya tersenyum ceria.
"Apa kau ingat janjimu dulu? Kau berjanji tidak akan meninggalkanku. Maukah kau mengulang janjimu lagi sekarang?"
"Baiklah! Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu."
*****

Dua bulan berlalu...
Aku sedang berlibur dengan Reno. Tempat yang sungguh indah. Pantai ini akan menjadi tempat favorit kami. Suasananya sangat damai. Aku suka pantai ini! Belaian angin yang membuatku merasa nyaman.

"Ini tehnya. Kau harus meminumnya." suara Reno membangunkanku dari lamunanku.
"Oh, terima kasih." aku tersenyum manis.
"Apa kau menyukai pantai ini?" tanya Reno penasaran.
"Tentu saja aku menyukai pantai ini. Bagaimana jika setiap satu bulan sekali kita berlibur ke sini?" tawarku padanya.
"Boleh. Aku juga sangat menyukai pantai ini." balas Reno tak mau kalah.
Reno memang sangat menyukai pantai. Bahkan pertemuan pertama kami terjadi di pinggir pantai. Kenangan yang tak terlupakan.

Reno kembali ke kamar sedangkan aku masih menikmati suasana tenang ini. Sepertinya ia ingin mengajakku ke suatu tempat. Reno mengambil kunci mobilnya di atas lemari kecil dan segera keluar. Ternyata benar, Reno mengajakku untuk makan malam di luar. Dia langsung menarik tanganku tanpa membiarkanku untuk mempercantik diri.

Apa yang ia inginkan? Jika dia ingin mengajakku makan malam romantis, seharusnya dia memberikanku waktu untuk mengganti baju!

Entah mengapa aku merasa malam ini terasa lebih dingin. Reno pun memakaikan jaketnya padaku. Ia mengelus kepalaku dan mencium keningku. Sepanjang perjalanan kami hanya diam dan saling melemparkan senyuman. Tanpa aku sadari ternyata sedari tadi kami hanya berputar mengelilingi pinggir pantai.

"Kau baru menyadarinya ya?" tanya Reno tiba-tiba.
"Oh, iya. Sebenarnya kita mau kemana?" tanyaku sambil mengerutkan kening.
"Kita sudah sampai. Ayo turun."

Reno menggenggam tanganku erat. Dia membawaku ke sebuah meja makan di pinggir pantai. Ada banyak lilin di sekitar meja itu. Romantis. Suasananya sangat tenang. Seolah-olah pantai ini telah disediakan untuk kami. Reno masih menggenggam tanganku. Kami pun mendekati meja makan itu.
*****

"Bagaimana makan malam tadi? Apakah kau senang?"
"Tentu! Aku tak akan pernah melupakan hal itu." aku masih berseri-seri.
Reno membelai rambutku yang terurai.

Tiba-tiba aku melihat bunga yang sangat cantik di pinggir jalan. Aku pun meminta Reno untuk memetiknya.

"Benarkah? Baiklah akan kuambilkan untukmu."
"Aku tunggu di sini ya. Tolong ambilkan bunga yang paling cantik." pintaku sambil mengedipkan mata.

Reno tersenyum renyah. Dia sangat bersemangat. Wajar saja, semua suami pasti akan melakukan apapun supaya istrinya senang. Lima menit berlalu. Namun reno belum juga kembali ke mobil. Sepertinya Reno ingin mendapatkan bunga yang paling cantik sesuai permintaanku.

Aku terus melihat jam tanganku, hadiah dari Reno saat ulang tahunku dua tahun yang lalu. Kenangan itupun muncul di benakku. Pada saat itu kami sangat bahagia, sama seperti sekarang. Rasanya aku tak ingin melepaskan kebahagiaan ini. Lamunanku buyar saat kulihat Reno Sedang berlari tergesa-gesa sambil membawa seikat bunga yang cantik. Aku pun keluar dari mobil.

"Aku berhasil mendapatkan bunga cantik yang kau inginkan!" teriak Reno riang dari seberang jalan.
"Hebat!" pujiku padanya sambil melambaikan tangan.

Langkah Reno terhenti ketika aku mendengar suara yang keras, Reno tertabrak sebuah truk! Aku segera berlari menuju Reno.

"Reno!!!" teriakku terkejut diiringi isak tangis, namun tak ada jawaban.
"Reno. Berbicaralah padaku. Aku mohon!" pintaku sambil menahan tangis.
"A-ku me-nya-ya-ngi-mu." ucap Reno terbata-bata
"Aku juga. Aku mohon bertahanlah." air mataku mulai membasahi pipi.
"Jangan menangis. Aku akan sedih jika melihatmu menangis."

Aku benar-benar sedih. Aku tidak tega melihat kondisi Reno.
"Sekarang aku ingin kau berjanji padaku. Berjanjilah tidak akan meninggalkanku!" teriakku mencoba menahan air mata yang akan mengalir lagi.
Namun Reno hanya tersenyum. Reno menggenggam erat kedua tanganku.
*****

Aku tersadar dari lamunanku. Aku sedang berada di pinggir pantai. Ombak-ombak kecil terus menarik kakiku. Air mataku masih mengalir. Kejadian enam bulan yang lalu masih jelas di ingatanku. Dadaku terasa sesak.

Reno, aku tidak bisa terus hidup tanpamu. Aku sangat merindukanmu. Aku ingin melihatmu. Kita tidak bisa terus bersama di dunia ini, karna kau telah meninggalkanku. Oleh karena itu, mungkin kita akan bertemu di surga. Ku mohon, tunggu aku.

Ombak-ombak kecil itu terus menarik kakiku. Aku terus berjalan ke tengah pantai. Pantai favorit kami. Pantai, yaa pantai. Kenangan kami ada banyak sekali di pantai ini. Dan aku ingin pergi sambil membawa kenangan-kenangan kami. Tubuhku terasa dingin. Air pantai ini telah menutupi seluruh tubuhku.

"Aku mencintaimu Reno."

~ The End ~

Umi Yanti
8 oktober 2011

1 komentar: